Hallo Berlin!

Halo halo~

Saya pengen mulai semangat nulis lagi, dan karena ga ada mood buat nulis di diary dan sekalian pengen mulai menghidupkan blog lagi, jadilah main ke blog ini 😀

Honestly, tanpa bermaksud sombong, setelah bertahun2 kuliah, kerja, dan berinteraksi di luar negeri, saya jauh lebih mudah buat nulis dalam bahasa Inggris. Tanpa disadari, kemampuan bahasa Indonesia saya jadi parah. Levelnya level parah banget sampe saya susah payah mencari padanan beberapa kata bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia. Anehnya, kalo ngomong bahasa slang (alias: lo gue), masih lumayan. Hadeuh. Jadi, nulis di blog ini pun saya usahakan dalam bahasa Indonesia deh, mudah-mudahan saya bisa balik jadi polygot 😀 (amiin yang kenceng)

Anyway, topik yang bakal saya bahas beberapa waktu ke depan, kayaknya ga bakalan jauh2 dari topik utama hidup saya sekarang ini: how to survive in Berlin.

Dimana saya sekarang?

Ya, sejak akhir November lalu, kami sekeluarga pamit sama Singapura. Setelah 12 tahun lebih bermukim di sana, kami pindah ke Jerman. Tepatnya di ibukota: BERLIN.

Kenapa Berlin?

Banyak banget yang tanya: kenapa mesti di Jerman? Dan kenapa Berlin? Jawabannya sih gampang: rezekinya di sana 😀
Ok, jawaban seriusnya adalah karena dapat kerjanya disana.

Masih kurang serius juga ya? 😀

Awal 2017

Banyak yang mungkin kurang tahu kalau beasiswa saya di Singapura mengharuskan saya untuk bekerja 6 tahun di perusahaan yang terdaftar diSingapura. Dan itulah yang saya berusaha lunasi secepat mungkin. Saya lulus tahun 2009, tapi sempat ambil break dulu sebentar tahun 2010-2011 buat numpang hidup jadi research student di Tokyo. Akhir 2011, saya kembali keSingapura buat cari kerja dan melunasi bond tersebut.

Dengan tekad mulia melunasi bond (halah), saya meniatkan untuk tidak lagi mengambil break karena… well, enam tahun itu lama, jendral!

Seriusan, enam tahun itu lama. Saking lamanya, saya sering wondering kenapaaa dulu saya ambil beasiswa ini (astaghfirullah). Yah namanya juga manusia, kadang-kadang kan ada juga penyesalannya. Untungnya, ada pak suami yang sering ngomelin,

Udah dibayarin sekolah dikasih uang jajan ga ada bunga, masih aja ngeluh!

#sungkem

Ditoyor begitu terus setiap ngeluh ya mau ga mau kesentil juga hahaha. Alhamdulillah selalu diingatkan. Biar bagaimanapun, uang beasiswa saya asalnya adalah dari pembayar pajak dan saya punya kewajiban untuk melunasi kontrak sesuai dengan perjanjian soalnya kalo bayar ga ada duit.

Suami juga punya bond yang sama dengan pemerintah Singapura – alhamdulillah sudah lunas dari tahun 2014. Tinggallah saya yang insya Allah baru akan lunas pertengahan 2017.

Singkat cerita (singkat?), mulai awal 2017 pun suami mulai cari-cari kesempatan kerja di luar Singapura. Alhamdulillah, lumayan banyak yang menawarkan – tapi kebanyakan selalu terbentur alasan yang sama: visa. Yah, ga bisa juga menyalahkan paspor hijau kami, tapi bohong kalau ga ngerasa kalau paspor kami ini … lemah sekali.

Anyway, ga guna juga menyalahkan paspor. Jadi yang bisa kami lakukan ya mencari kesempatan kerja di negara yang tidak terlalu ketat dengan urusan visa untuk orang asing (The UK dan USA were out of questions, absolutely). Salah satunya, Jerman.

Suami dapat beberapa interview dari perusahaan besar atau start up di Jerman. Dan alhamdulillah, sempat dapat tawaran dari salah satu start-up terkenal di Dusseldorf yang sayangnya harus kami tolak karena satu dua alasan.

Mei 2017

Bond saya selesai dan saya pun mengurus surat bebas bond ke MOE (kementrian pendidikan nya Singapura). Proses nya lumayan berbelit karena ada beberapa dokumen saya yang kurang lengkap. Alhamdulillah, setelah email bolak balik beberapa minggu kemudian, surat bebas bond saya pun keluar.

Karena bond saya sudah selesai, maka saya pun juga mulai serius mencari kerja di Jerman. Jenis pekerjaan saya lumayan niche, jadi tidak banyak yang bisa saya apply di Jerman. Ada beberapa interview, dan alhamdulillah ada tawaran dari perusahaan ads di Berlin.

Entah kenapa saat itu kami merasa tidak siap untuk pindah. Malta (anak kami yang paling kecil) masih terlalu kecil (6 bulan) dan suami saya juga belum dapat kerja. Untuk melepaskan double income yang kami punya, rasanya sangat berat.

Tapi kami juga terpikir, kapan lagi kesempatan seperti ini akan datang, apalagi untuk jenis pekerjaan seperti pekerjaan saya yang niche. Akhirnya kami memutuskan untuk menerima tawaran tersebut walaupun dengan setengah hati.

Allah memang selalu tahu yang terbaik. Hanya selang sehari setelah saya mengiyakan tawaran HR perusahaan tersebut, tiba-tiba saja tawaran nya di tarik kembali karena katanya role yang ditawarkan akan dialokasikan untuk cabang mereka yang di Israel.

Sedikit kecewa karena saya sudah meluangkan banyak waktu untuk proses interview mereka. Tapi ya sudahlah, justru saya lebih banyak bersyukur karena tidak jadi masuk perusahaan yang tidak professional.

July 2017

Alhamdulillah, benar-benar tidak terduga suami dapat tawaran dari perusahaan lain yang lebih besar dari sebelumnya dan berlokasi di Berlin. Tapi di saat yang bersamaan, saya belum dapat kerja juga. Kenyataan berbicara kalau kami tetap membutuhkan double income.

Setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami memutuskan untuk suami tetap berangkat sementara saya tetap mencari kerja dari Singapura. Sedih juga karena waktu itu masih belum kebayang bagaimana saya harus menjaga anak-anak sendirian sementara suami sendirian di Berlin. Tapi waktu itu kami lagi-lagi berpikir, kesempatan tidak akan datang tiga kali. Bismillah.

September 2017

Allah maha baik. Hanya berselang dua bulan, saya mendapatkan tawaran dari sebuah start up di Berlin. Secara gaji pun tidak terlalu mengecewakan dan relocation package nya cukup memuaskan. Alhamdulillah, insya Allah double income kami tetap terjaga.

Antara deg-degan dan takut sebenarnya. Membayangkan kami harus memulai hidup baru di kota dan negara yang sedemikian jauh, apalagi dengan dua anak yang masih di bawah lima tahun. Belum terbayang susahnya, tapi lagi-lagi…. bismillah.

October 2017

Kami buat acara pamitan kecil-kecilan di rumah untuk teman-teman di Singapura. Suami pun berangkat ke Berlin. Sementara saya tetap di Singapura untuk satu bulan ke depan karena masih banyak urusan yang harus dibereskan, i.e packing, ngurus visa kerja, ngurus visa anak-anak, dsb, dst.

Urusan packing dan urus visa ini pun banyak dramanya sampe-sampe saya kadang2 ngerasa mau nyerah. Untuk itu, mesti ada satu blog post tersendiri kayaknya. Hahaha.

November 2017

Sampai awal November, saya belum beli tiket ke Berlin. Reality hit me hard that I was finally … going to leave Singapore for good. The place where I spent almost half of my life. 

Akhirnya, mendekati hari-hari terakhir saya di perusahaan sebelumnya, saya membeli tiket one way Singapura-Berlin. Lebay mungkin, tapi saya sempat menangis sedikit haha.

30 November 2017

Sampai hari terakhir pun, masih banyak urusan yang belum selesai dan kami sampai bingung kenapa bisa masih banyak yang terbengkalai hahaha.

Alhamdulillah, beberapa jam sebelum kami harus meninggalkan rumah, semuanya beres dan kami pun berangkat menuju Changi dengan koper-koper seberat lebih dari 100 kilo.

2018

Disinilah kami semua sekarang. Di akhir musim dingin menuju musim semi di Berlin. Kedepannya masih akan banyaaak sekali tantangan, terutama dengan adaptasi dan bahasa Jerman. Bismillah, insya Allah semuanya akan lancar 🙂

Masih banyak cerita dibalik kepindahan dan adaptasi kami di Berlin. Mudah2an ada waktu buat nulis semuanya di blog ini.

Tschuss!,
92c4a39ccb411b660632f537ac085077

9 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *