Supaya Tetap “Waras” Menjadi Working Mom

Lagi-lagi dengan judul yang bombastis.

Well, I don’t exactly have a flair for choosing a catchy title, so bear with me ya?

Anyway, di tengah-tengah flu dan puyeng yang melanda sejak kemarin, saya jadi kepikiran – kalau lagi sakit gini, entah kenapa pikiran jadi makin banyak padahal harusnya saya istirahat dan rileks. Lalu saya pun berlanjut mikir, kenapa?

Simple aja sih jawabannya: karena rumah berantakan dan anak-anak tetap perlu makan, hahaha.

Waktu masih di Singapura, kami punya ART – jadi saya ngga terlalu pusing soal urusan rumah dan makan. Urusan saya cuma kerja dan main sama anak malam-malam dan weekend. Kalau dipikir-pikir lagi, it was such a privilege.

Sekarang di Berlin, jangankan ART, yang namanya childcare saja kebanyakan cuma sampai jam 5 sore dan kalau musim panas bisa tutup sampai 2-3 minggu layaknya orang kantoran, haha.

Intinya, di Berlin ini, semuanya harus kami lakukan sendiri. Untungnya, jam kerja kami lumayan fleksibel dan opsi untuk working from home juga available.

Back to the main story.

Karena rumah masih harus diurus, anak-anak masih harus tetap makan, dan kerjaan kantor pun tetap harus jalan – kami harus punya sistem di rumah dan di kantor.

Basically, these are what we do.

Continue reading “Supaya Tetap “Waras” Menjadi Working Mom”

Mencari Kerja di Eropa

Bombastis banget judulnya, haha.

Menyambung tulisan saya sebelumnya soal kepindahan keluarga kami di Berlin yang alhamdulillah terlaksana karena saya dan suami mendapatkan kesempatan kerja di sini, saya akan mencoba merangkum perjalanan kami mencari rezeki, dan semoga bisa jadi pointers buat yang sedang berusaha juga. Ga panjang-panjang juga karena proses nya sebenarnya sederhana 😀

Benahi CV

Yes, langkah pertama bukannya soal mencari negaranya atau lowongannya. Tapi benahi CV/resume. Berikut beberapa pointers yang saya dapat dari beberapa recruiters yang sempat saya ajak diskusi:

  • Update riwayat pekerjaan dengan layak. Cantumkan job description yang sesuai untuk tiap posisi.
  • Update pencapaian untuk tiap posisi dengan angka. Ini penting – karena calon employer tentunya ingin melihat value yang diberikan calon employee ke perusahaan-perusahaan sebelumnya – dan medium angka adalah indikator terbaik. Contoh: Berhasil meningkatkan revenuequarter-to-quarter sebanyak XX%.
  • Batasi panjang CV/resume. Recruiter tidak akan ambil pusing dengan CV/resume yang panjangnya melebihi dua halaman.
  • Make it attractive but not distracting! Saya pake enhance dan puas sekali dengan hasilnya.
  • Have it reviewed by someone else. Minta feedback dari orang-orang dekat – lebih baik lagi kalau ada kenalan HR/Recruiter 🙂

Selain membuat versi .pdf dari CV/resume, ada baiknya kita punya digital presence juga untuk CV/resume. Untuk yang punya website sendiri, siapkan satu section khusus untuk CV/Resume. Atau bagi yang tidak punya, LinkedIn is your best bet!

Tentukan negara tujuan

OK, now that your CV is done – time to move on to the next step.
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan ketika akan mulai mencari kesempatan di luar.

Jenis pekerjaan

Pertama, field pekerjaan. Untuk tiap field, ada beberapa negara yang memang menonjol disana. Untuk IT di Eropa, Belanda dan Jerman. Untuk finance, mata sudah tentu tertuju ke UK. Silakan browsing di negara mana yang lebih banyak tersedia lapangan pekerjaan sesuai dengan field pekerjaan sebelumnya.

Kondisi negara yang diincar

Waktu kami melihat-lihat prospek mendapatkan pekerjaan di Eropa, kami sadar betul bahwa kami tidak bisa asal pilih. Melihat situasi keluarga kami, kami ingin ke negara yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Memungkinkan kami berdua untuk sama-sama bekerja.
  • Great work-life balance.
  • Punya sistem pendukung untuk keluarga dengan working parents .
  • Punya komunitas Muslim dan akses ke bahan makanan halal.
  • Urusan visa kerja yang relatif mudah dan masih menerima pendatang.

Setiap orang punya kondisi berbeda. Silakan di survey di negara mana yang lebih pas untuk mengais Euro 🙂 Sebagai referensi, selain memantau berita kondisi Eropa, kami juga banyak mencari tahu dari Quora.

Berburu lowongan pekerjaan

Setelah menetapkan negara mana yang kira-kira berprospek, waktunya berburu!

LinkedIn

Sebagai profesional jaman now #eh, pastinya punya LinkedIn profile. LinkedIn juga punya section dimana companies bisa memasang lowongan pekerjaan.
Screen Shot 2018-04-14 at 10.33.07 AM
Untuk yang berlogo “Easy Apply” – bisa di apply via LinkedIn langsung instead of ke website perusahaannya.

Glassdoor

Glassdoor most of the time is used as a review/interview help website. Tapi sebenarnya mereka juga punya section untuk lowongan pekerjaan.
Screen Shot 2018-04-14 at 10.35.30 AM

Ada beberapa perusahaan yang tidak memasang lowongan pekerjaan mereka di LinkedIn – but they put them on Glassdoor instead. Saya pun menemukan lowongan pekerjaan di company saya yang sekarang justru di Glassdoor. Intinya, check both and perhaps there are some openings that you missed.
Di Glassdoor, praktisnya juga bisa langsung cek rating tiap company dan review dari interviewees and employees. Menurut saya, review dan rating di Glassdoor lumayan akurat.

Local job websites

Waktu saya mencari lowongan pekerjaan, saya juga register di local job websites. Untuk Jerman, saya register di Xing. Tidak terlalu menolong kalau untuk saya – karena jobs yang di list di Xing cenderung menggunakan bahasa Jerman dan tentunya mencari orang yang sudah fasih bahasa Jerman. Tapi kadang-kadang saya menemukan lowongan yang ga ada di LinkedIn atau Glassdoor – mostly start-ups kecil.

Network

Nah ini. Kalau ada ex-colleagues atau kenalan yang sudah bekerja di negara tujuan, akan jauh lebih cepat prosesnya. Sebagai orang dalam perusahaan, mereka mungkin lebih tahu lowongan pekerjaan yang sudah available tapi belum dipublish di website manapun. Dan mereka pun akan dengan senang hati merefer kita karena kemungkinan akan ada bonus tambahan untuk mereka.

Tetapi kita juga perlu hati-hati menggunakan jalur network ini. Jangan sampai terlalu memaksa apalagi terkesan ‘menodong’.

Internal transfer

Global companies mungkin punya banyak kantor tersebar di kontinen yang berbeda. Manfaatkanlah internal transfer jika ada. Selain prosesnya yang cenderung lebih mudah dan simple, biasanya company akan menyiapkan dana relokasi dan akomodasi sementara yang lumayan jumlahnya. Untuk proses adaptasi pun tidak terlalu sulit karena kita sudah tahu bagaimana proses di perusahaan berjalan.

Mempersiapkan diri untuk interview

Sudah ada panggilan interview? Selamat! Waktunya bersiap-siap.

Research, research, research

I can’t stress this enough. Do your homework. Find out about the company and the culture, find out what their latest product is, find out what are their biggest challenges. Find out about the interviewer if you can. Intinya, cari tahu tentang company itu sebanyak-banyaknya.

Phone call

Biasanya recruiter akan memulai dengan simple phone call – pertanyaan yang mereka lontarkan biasanya lumayan basic. Past experiences, basic salary, expected salary, dsb. Berikanlah first impression yang baik. Jika call dilakukan saat office hour (karena perbedaan timezone, mungkin), carilah tempat yang kondusif untuk bicara.

Roundtable

Konsep roundtable sendiri biasanya lebih untuk technical interviews. Untuk kasus saya, karena saya adalah overseas candidate, roundtable yang saya jalani dipisah menjadi satu kali sehari dalam kurun waktu 4 hari – jadi setiap hari akan ada satu interview dengan 4 interviewers yang berbeda-beda. Siapkan stamina dan waktu. Menurut saya ini adalah tahap yang lumayan melelahkan.

On-site interviews

Untuk tahap terakhir interview, ada beberapa company yang mengundang candidates untuk datang ke lokasi dan mengadakan interview terakhir disana. Tujuannya lebih untuk bertemu langsung dengan calon employee and getting to know the candidate better. Di company tempat saya sekarang bekerja, on-site interview juga dibarengi dengan makan siang bersama. Tahap terakhir ini biasanya lebih rileks, tapi orang-orang yang ditemui juga biasanya lebih ‘atas’ – selevel director atau manager.

Jika diundang untuk on-site interviews, saran saya yang pertama adalah: VISA. Seperti yang sudah sama-sama kita tahu, untuk paspor Indonesia biasanya butuh aplikasi visa yang lumayan panjang ke negara Eropa. Perhatikan baik-baik ketentuan aplikasi visa dan berapa waktu yang dibutuhkan hingga visa keluar. Terkadang kedutaan besar juga akan meminta surat keterangan dari pengundang – komunikasikan dengan baik soal ketentuan ini dengan recruiter/HR.

Offer negotiation

Sudah melewati tahap interviews yang panjang dan sudah ada offer di tangan? SELAMAT! Saat nya negosiasi bila perlu 🙂

Expected salary

Saya tidak mematok increment yang tinggi – tapi menurut saya sangat penting untuk know your worth. Cari tahu average gaji untuk posisi yang ditawarkan dan tentunya dengan years of experience yang kita punya. Jangan mau di low ball. That kind of company will never appreciate you in the long run.

Benefits dan packages

Yang standar-standar seperti annual leaves, bonus, saham (bila ada). Tentunya ini berbeda-beda untuk tiap perusahaan. Tapi sebagai calon expat #eh, menurut saya ada hal-hal spesifik yang perlu ditanyakan:

  • Relocation allowance. Apa yang dicover? Tiket pesawat? Pengiriman barang? Pengurusan visa?
  • Temporary accommodation. Tentunya kita tidak bisa langsung datang ke negara yang mungkin kita belum kenal dan punya akomodasi yang permanen.
  • Bantuan pengurusan birokrasi. Ini sangat penting apalagi kalau pegawai pemerintahan negara tersebut don’t speak a lot of English.

***

Epilog

Overall, saya merasa perjuangan mencari kerja dimana-mana sama saja. Berusaha sebaik-baiknya untuk mencari pekerjaan dan rezeki yang halal, sisanya tinggal berserah pada Allah.

Point penting yang bisa saya tegaskan disini – sabar, sabar, dan sabar. Sebagai overseas candidate, tidak mudah untuk mendapatkan interview, apalagi offer. Adaptasi dengan kultur baru juga perlu menjadi pertimbangan – apalagi kita sebagai orang Asia beradaptasi dengan kultur Eropa.

All the best :),
92c4a39ccb411b660632f537ac085077