Supaya Tetap “Waras” Menjadi Working Mom

Lagi-lagi dengan judul yang bombastis.

Well, I don’t exactly have a flair for choosing a catchy title, so bear with me ya?

Anyway, di tengah-tengah flu dan puyeng yang melanda sejak kemarin, saya jadi kepikiran – kalau lagi sakit gini, entah kenapa pikiran jadi makin banyak padahal harusnya saya istirahat dan rileks. Lalu saya pun berlanjut mikir, kenapa?

Simple aja sih jawabannya: karena rumah berantakan dan anak-anak tetap perlu makan, hahaha.

Waktu masih di Singapura, kami punya ART – jadi saya ngga terlalu pusing soal urusan rumah dan makan. Urusan saya cuma kerja dan main sama anak malam-malam dan weekend. Kalau dipikir-pikir lagi, it was such a privilege.

Sekarang di Berlin, jangankan ART, yang namanya childcare saja kebanyakan cuma sampai jam 5 sore dan kalau musim panas bisa tutup sampai 2-3 minggu layaknya orang kantoran, haha.

Intinya, di Berlin ini, semuanya harus kami lakukan sendiri. Untungnya, jam kerja kami lumayan fleksibel dan opsi untuk working from home juga available.

Back to the main story.

Karena rumah masih harus diurus, anak-anak masih harus tetap makan, dan kerjaan kantor pun tetap harus jalan – kami harus punya sistem di rumah dan di kantor.

Basically, these are what we do.

Continue reading “Supaya Tetap “Waras” Menjadi Working Mom”