Why you should not move to Berlin

Atas permintaan Suhu (aka Adi Prawira – blogger kebanggaan Nggawe Teler University), maka topik kali ini adalah: why you should NOT move to Berlin.
Dan list berikut ini adalah hasil kolaborasi dengan suami tercinta :)))

Disclaimer dulu as usual: list berikut ini berdasarkan pengalaman kami yang lumayan lama bermukim di Singapura – lalu pindah ke Berlin. Pastinya ada yang setuju, ada yang tidak.

Makanan Halal

Ini mah ga usah ditanya lagi ya :)) Sewaktu di Singapura, kami benar-benar dimanjakan dengan makanan halal (bersertifikat pula) yang bertebaran dimana-mana. Bosan makan masakan rumah, ya tinggal ngacir ke McD, KFC, Pizza Hut, dsb, dst. Harganya pun terjangkau. Di Berlin, paling sering makanan halal yang kami temukan ya.. KEBAB. Sekali dua kali gpp lah makan kebab. Tapi kalo keseringan ya mabok daging juga :))

Masak sendiri tentu jadi solusinya. Tapi ada lagi yang brasa kurang – bumbu-bumbu masak yang kebanyakan berasal dari Turki atau negara Timur Tengah lainnya berasa kurang cocok di lidah Indonesia kami. Masih ada toko Asia memang, tapi berhubung kami agak was-was dengan status kehalalan bumbu-bumbu masak disana, seringnya sih di skip saja.

Pajak

40%. EMPAT PULUH. Nuff said.

Childcare

Bagi orangtua bekerja, mutlak sangat untuk punya childcare spot. Karena punya nanny hanya untuk horang kayah.

No, seriously. Untuk nanny yang full time, kita harus bayar kurang lebih 1000 EUR sebulan. Dan itupun sharing dengan keluarga lain. Dan kita harus antar anak-anak kita ke tempat si nanny.

Childcare jadi satu-satunya solusi untuk orangtua bekerja. Tapi masalahnya adalah, Berlin sedang ada krisis childcare. Bayangkan saja, waiting list untuk dapat spot di childcare bisa sampai setahun. Atau lebih. Kolig saya malah ada yang mulai cari childcare dari sejak istrinya hamil 3 bulan. Sekarang anaknya sudah umur setahun lebih, masih belum dapat. In total, dia sudah mencari spot hampir dua tahun!

Alhamdulillah, kami masih diberi rezeki untuk dapat childcare buat Z dan M, di tempat yang sama. Cerita buat cari childcare ini juga pantas dibuat satu post sendiri kayaknya :))) Nanti deh kalau semua sudah settled down.

German, German everywhere

2d6tzj
Maksudnya sih dimana2 semua orang pake bahasa Jerman :))

Buat negara Eropa, surprisingly orang Jerman ga terlalu fasih, atau bahkan ga mau ngomong pake bahasa Inggris. Masalahnya segala macam service disini hampir semua mesti pake bahasa Jerman – bahkan bank internasional seperti DB. Jadi bisa dibayangkan ribet nya segala macam urusan disini – apalagi birokrasi – karena harus mutlak pake bahasa Jerman.

Hospitality

Buat kami yang orang Asia dan terbiasa dengan segala macam ramah tamahnya walaupun banyak yang sebenarnya hanya basa basi, waktu pindah ke sini kami sempat kena culture shock juga karena betapa direct nya German – dan bahkan menjurus kasar juga kalau kita ngga familiar dengan budaya mereka.

Library with English books

Nah ini.

Saya kangeeeennn banget bisa minjam segala macam buku berbahasa Inggris di perpustakaan!

dvawTentunya masih ada opsi buat beli e-book atau beli buku physical sekalian, tapi ya kalau beli buku terus bangkrut juga kan beta. Di Berlin, so far saya belum nemuin perpus dengan koleksi buku2 bahasa Inggris yang mumpuni – at least yang terjangkau secara jarak dari rumah ya.

Rokok

Waktu kami di Singapore, walaupun orang ngerokok, itu ga segitu keliatannya karena emang orang2 masih pada liat waktu dan tempat kalo mau ngerokok.

Tapi di Berlin? Rokok itu semacam budaya. Puntung rokok bertebaran dimana2. Dan saya bahkan sering liat ibu2 ngerokok di samping anak2 mereka yang masih bayi/balita. Ini beneran bikin darah mendidih sih.

Mungkin kesadaran buat hidup sehat disini masih kurang ya, atau bahkan karena biaya kesehatan mereka ditanggung sama pembayar pajak jadi ya mereka santai2 aja punya gaya hidup yang jauh dari sehat.

Beer, weed, and naked people in the park

Duh sumpah ini bikin merinding.

Beer is like the way of them spending their weekend. Mungkin kalo di Jepang, setara dengan orang Jepang yang minum sake pulang kantor.

Untuk urusan weed, sebenarnya di Jerman masuk kategori ilegal kecuali untuk tindakan medis, tapi udah sering saya lihat orang menghisap ganja di tengah jalan  – bahkan ada anak2 SMP/SMA yang terang2an ngisap ganja di jam sekolah. One time I even saw a sign “Asking for money to buy weed” from a homeless. Miris banget ga sih :(((

Dan terakhir.. naked people in the park.

Begitu summer datang, orang2 pun langsung berjemur di mana saja mereka bisa berbaring – salah satunya di taman. Dan berjemur nya pun ga tanggung2 – banyak yang telanjang sekalian.

***

Huff, entah kenapa jadi panjang?

Kalau ditanya kenapa tetap mau pindah ke Berlin padahal segitu banyak cons nya – kalau kata Reisha

Hidup di mana pun tinggal disyukuri aja ada dengan segala kekurangan dan kelebihannya

*kurang lebih begitu sih ya :p

Kami bukannya tidak tahu dengan segala macam cons di atas, tapi karena menimbang pros nya akan jauh lebih bermanfaat ke depannya, maka kami mantap untuk pindah ke Berlin. Tapi ya semoga list ini bisa jadi bahan pertimbangan untuk yang sedang membuat rencana pindah – ke bagian manapun di dunia ini.

Semoga bermanfaat,
92c4a39ccb411b660632f537ac085077

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *