Balada Childcare

Bismillah,

Kembali melanjutkan #thenefainberlin series – ini topik yang kemaren kalah pas ada poling, tapi saya keukeuh tetap pengen nulis tentang ini, hihi. Kenapa? Soalnya berasa perjuangan untuk mendapatkan childcare ini bikin lelaaaahhh sangat. Sayang kalau ga ditulis buat kenang-kenangan #eh

Jadi ceritanya, waktu di Singapura, Z dan M diasuh sama mbak Marni. Mbak kami yang sudah mengasuh Z dari dia umur 3.5 bulan dan M sejak dia lahir. Yang sayangnya bukan main sama Z dan M. Yang bikin kami galau waktu memutuskan buat pindah dari Singapura ke Berlin. Z dan M belum ngerti memang kalau mereka bakalan pisah dari mbak Marni, tapi malah jadi kami yang drama karena ya, beliau sudah seperti keluarga sendiri.

Sebenarnya salah satu ketakutan kami buat pindah ke Berlin adalah, siapa yang akan mengasuh anak-anak selagi kami di kantor?

Opsi pembantu dan pengasuh anak bukan pilihan buat kami karena kalau boleh jujur, kami ingin anak-anak mulai mandiri dan banyak sosialiasi dengan anak-anak lain di luar jam main mereka di luar rumah. Jadi tentunya tinggal opsi terakhir: childcare aka penitipan anak.

Di Jerman, childcare disebut Kita. Dan apesnya (atau untung?), pas kami pindah kesini, Berlin sedang mengalami krisis kekurangan Kita. Waiting list dimana-mana, dan malah ada yang bisa waiting list sampe setahun. Ngeri juga waktu baca berita-berita soal ini. Tapi bismillah, walaupun ga ada rencana konkrit selain tetap mencari-cari spot, akhirnya kami tetap berangkat juga ke Berlin.

Apply Kita Gutschein

Sistem di Berlin untuk pembayaran bulanan Kita, agak sedikit berbeda dengan daerah-daerah lain di Berlin. Di Frankfurt dan Munich, misalnya, orangtua harus membayar sebagian besar dari biaya Kita. Sementara di Berlin (dan kalau ga salah, Hamburg), pemerintah kota menyerap hampir semua biaya Kita untuk anak.

Jadi berapa yang harus dibayar oleh orangtua?

Tergantung dari penghasilan orangtua. Jadi di Berlin ini ada sistem yang namanya Kita Gutschein (aka. coupon/voucher). Kebanyakan Kita cuma mau menerima anak yang udah punya Gutschein, jadi penting sekali untuk punya Gutschein bahkan sebelum mencari spot untuk Kita. Setelah mendapatkan Gutschein (yang bisa berbeda-beda tergantung berapa jam anak bisa dititipkan di Kita), orangtua tahu berapa yang mesti dibayarkan ke pemerintah Berlin.

Ada juga Kita yang menerapkan extra charges di luar biaya ke pemerintah Berlin – dan biasanya dana ekstra ini digunakan untuk mempekerjakan lebih banyak guru dan Ausbildung (=intern). Rasio guru dan anak ini amat sangat penting karena kalau satu guru terlalu overwhelmed dengan banyaknya anak yang dia handle, tentunya dia akan kesusahan dan ga konsen lagi.

Temporary nanny

Sembari menunggu Gutschein keluar dan tentunya mencari Kita spot – yang waktu itu belum tahu dapatnya kapan, kami memutuskan untuk mencari alternatif lain yaitu nanny sementara.

Mencari temporary nanny ini pun banyak drama nya. Untuk nanny yang official dari agency, kami harus membayar sekitar 1000 EUR. Itu pun masih harus sharing dengan keluarga lain dan kami harus mengantar anak-anak sendiri ke tempat sang nanny.
Kami pun mencoba mencari jalur lain – jalur pertemanan. Suami ada kenalan yang membantu mencarikan temporary nanny yang masih masuk budget kami dan bisa untuk short term. Alhamdulillah, by the time saya mulai masuk kantor, sudah ada nanny yang mengasuh anak-anak full time.

Mencari Kita

Setelah Gutschein keluar, kami pun mulai mencari Kita spot. Untuk proses pencarian ini, karena jujur kami kurang tahu prosesnya, kami pun meminta bantuan dari relocation agency yang kemarin membantu proses birokrasi saya di Berlin. Alhamdulillah, kantor saya memberikan relocation budget yang cukup biaya pencarian Kita spot ini.

Kenapa kami tidak mencari sendiri?

Karena kami percaya kalau relocation agency kami punya network yang jauh lebih luas daripada kami yang baru sampai di Berlin ini. Dan setengah berharap mungkin mereka punya koneksi di Kita-kita yang punya spot kosong. Walaupun harapan tinggal harapan karena yang namanya Jerman ini semuanya tetap mesti jalur resmi, haha.

Alasan lainnya karena dengan bahasa Jerman kami yang minim, akan lebih susah untuk kami mengontak Kita-kita yang ada. Kami pun inginnya anak-anak masuk Kita dengan bahasa Jerman supaya mereka bisa terekspos pada bahasa Jerman dan tentunya akan berguna saat mereka mulai pendidikan dasar disini.

Proses pencarian Kita kami dimulai akhir Januari – relocation agency kami membantu dengan cara mengontak Kita di sekitar tempat tinggal kami. Mula-mula kami bilang untuk mencarikan Kita yang opening hours nya sampai jam 6 sore supaya kami bisa menjemput sesudah jam kantor. Tapi karena Kita yang bisa buka sampai jam 6 sore itu AMAT SANGAT SEDIKIT (iya, saking sedikitnya), akhirnya kami memutuskan untuk tidak mematok jam buka Kita sebagai salah satu kriteria. Asalkan dekat dari rumah/kantor, insya Allah tidak masalah.

Sampai pertengahan Februari, masih belum ada titik terang. Ada beberapa Kita yang menawarkan kami untuk masuk waiting list, tapi ya namanya waiting list ya waiting. Belum tentu kami akan dapat spot karena pasti banyak juga orang yang antri. Mencari spot untuk M malah lebih susah lagi karena ga banyak Kita yang mau menerima anak sekecil M. Rata-rata menerima anak paling kecil itu usia 2 tahun, sementara usia M malah belum 1.5 tahun saat itu.

Saat saya frustrasi karena tak kunjung mendapat kabar baik, saya pun menulis sebuah post di Facebook grup ExpatBabies Berlin. Memang masalah Kita spot ini udah kayak broken record, dalam seminggu pasti ada aja orangtua di grup itu yang mengeluhkan susahnya mencari spot untuk anak-anak mereka. Postingan saya pun tidak jauh beda. Bagaimana saya frustrasi karena sudah hampir 30 Kita yang dikontak oleh agency dan semuanya negatif – malah ada yang merespon dengan kalimat begini:

Please do not bother to call since we don’t even have a waiting list

Saking penuhnya!

Saya menulis postingan itu semata-mata karena ingin mencari yang senasib dan dukungan moril. Tapi ternyata ada satu orangtua yang memberikan saya kontak ke sebuah Kita kecil yang lokasi nya di dekat rumah saya. Menurut dia, Kita ini baru buka cabang lain di dekat tempat tinggal saya – jadi siapa tahu masih ada spot. Waktu saya lihat nama Kita nya, saya agak kaget kenapa ini tidak ada di list Kita yang dikontak agency saya? Dan sepertinya agency saya ini memang kelewatan Kita-kita kecil.

Saya pikir tidak ada ruginya kan – saya pun mampir ke website Kita itu. And surprise, surprise, mereka bilang di website mereka kalau mereka ada free spots untuk anak laki-laki kelahiran 2014! Dan ada waiting list untuk anak laki-laki yang lahir tahun 2016 juga!
Sekedar intermezzo, iya, Kita disini berusaha menjaga balance jumlah anak laki-laki dan anak perempuan yang mereka asuh. Jadi mereka sangat spesifik dengan free spots yang mereka punya.

Anyway, saya pun mengontak agency saya supaya mereka menghubungi Kita ini. Agency saya mengisi form application dan mengirim nya via email.

Besoknya, saat saya sedang di kantor, tiba-tiba agency saya mengirim kabar. Z dapat spot dan bisa mulai secepat mungkin! Sementara M bisa mulai di bulan Mei, menunggu usianya 1.5 tahun dulu karena yang paling muda yang bisa mereka terima itu umur 1.5 tahun!
Wah, saya langsung lompat-lompat kegirangan di kantor. Saya bersyukur sekali – rasanya jauh lebih bahagia daripada waktu mendapatkan blue card, hahaha.

Z mulai masa penyesuaian (Eingewöhnung)

Di Jerman, anak-anak tidak bisa langsung ditinggal seharian di Kita. Ada yang namanya masa penyesuaian atau istilahnya Eingewöhnung. Jadi, mereka akan mulai dengan 1-2 jam sehari dan akan ditambah bertahap dengan melihat kesiapan mereka – sampai akhirnya mereka bisa ditinggal sehari penuh. Z alhamdulillah tidak ada masalah berarti. Cukup 1-2 minggu untuk masa Eingewöhnung, dan dia sudah bisa ditinggal sehari penuh.

Z lumayan mudah beradaptasi, tapi dia agak kesulitan dengan masalah bahasa karena guru Kita nya cuma bisa bahasa Jerman. Untungnya ada intern yang bisa bahasa Inggris jadi bisa sewaktu-waktu menterjemahkan kalau Z ingin bilang sesuatu. Teman-temannya pun hampir semuanya cuma bisa bahasa Jerman dan kadang-kadang Z suka bilang ke saya kalau teman-temannya ‘don’t understand what I say‘. Saya mengerti dia frustrasi, tapi saya percaya cepat atau lambat dia akhirnya akan bisa bahasa Jerman.

Nanny trouble

M seharusnya bisa mulai Kita di pertengahan Mei. Dan kami berencana untuk memperpanjang masa temporary nanny kami sampai paling tidak akhir Mei. Tapi rencana tinggal rencana, di awal Mei, kepala sekolah Kita memberi kabar kalau Kita kami masih kekurangan guru untuk kelompok usia M. Jadwal M untuk bisa masuk Kita pun terpaksa di undur ke bulan Juni, atau bahkan Juli.

Sebenarnya waktu itu kami tidak begitu panik dengan perubahan jadwal ini karena beberapa hal. Pertama, mungkin lebih baik juga buat M karena kami sebenarnya masih agak was-was dengan usianya yang masih sekecil itu. Kedua, kami berencana akan memperpanjang lagi kontrak temporary nanny kami ini sampai bulan Juli.

Tapi lagi-lagi, rencana tinggal rencana, nanny kami memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak dengan kami. Dan yang lebih mengesalkan, tanpa pemberitahuan apa pun, dia mendadak minta berhenti hanya dengan 1 day notice.
Ya sudah. Saya malas berdebat dan kalau boleh jujur, sebenarnya sudah ada hawa-hawa kurang enak dari nanny ini dan kami pun agak berat sebenarnya untuk menawarkan perpanjang kontrak. Mungkin ini yang paling baik. Sudahlah, tutup buku.

Untungnya kami sudah ada part time nanny sebelum temporary nanny kami tiba-tiba minta berhenti. Tidak ideal memang, tapi ga ada pilihan lain.

Working from home part time

Karena sekarang kami cuma bisa meninggalkan M setengah hari di rumah, solusinya adalah kami kerja dari rumah setelah makan siang. Alhamdulillah sekali kami diberikan fleksibilitas oleh company masing-masing untuk bisa bekerja dari rumah. Kami pun membagi tugas. Saya di rumah beberapa hari seminggu, begitu juga Suami.

Lalu masalah selesai?

Tentu tidaak. Kerja dari rumah itu sangat sangat susah, apalagi dengan dua anak balita di rumah. Konsentrasi yang sering terpecah dan anak-anak yang masih belum bisa diberi pengertian kalau orangtua nya harus bekerja dulu di rumah. Sedih memang. Apalagi sepertinya anak-anak dapat kesan kalau ‘kenapa mama/papa di rumah tapi masih tetap kerja?’

Belum lagi kami harus menjemput Z dari Kita di sore hari. Jarak rumah kami ke Kita memang tidak terlalu jauh, tapi akses menuju kesana agak jarang dan cuma bisa dicapai dengan bus. Bus nya pun cuma 20 menit sekali. Bolak balik bisa 1 jam dan saat kembali ke rumah rasanya sudah capek. Anak-anak juga sudah waktunya dimandikan dan diberi makan.

Efeknya ya tentu saja ada jam kerja yang terpotong. Kami terpaksa terus bekerja beyond usual working hours untuk mengganti jam kerja yang terpotong ini, kadang sampai jam 9 malam.

Sampai sekarang kami masih menjalani rutinitas yang seperti ini. Dan masih harus begini sampai M bisa ditinggal di Kita full day.

M mulai masa penyesuaian (akhirnya…)

Akhir Juni akhirnya kami dapat kabar kalau M bisa mulai Eingewöhnung. Karena usia M yang masih kecil, guru nya pun mengingatkan kalau masa ini bisa sampai sebulan, atau bahkan lebih. Agak jiper juga sih waktu dengar itu. Tapi bismillah, semoga dimudahkan.
Untuk masa Eingewöhnung ini, orangtua atau caretaker harus stay dulu dengan anak, ga bisa langsung ditinggal. Tujuannya supaya anak tidak merasa dipisahkan paksa dengan lingkungan yang sudah familiar.

Beberapa hari pertama, M cuma satu jam di Kita. Itupun masih agak drama. Karena kami harus ke kantor, tentunya dan ga bisa menemani dia sementara dia di Kita. Prinsip guru-guru di Kita pun kami harus pamit sebelum berangkat kerja, dan M malah makin kejer karena dipamitin seperti itu.

Alhamdulillah, menjelang dua minggu berakhir – karena setelah itu Kita nya tutup untuk Sommerferien (liburan musim panas) – M sudah bisa mulai akrab dengan guru nya di Kita dan cuma cukup diawasi dari jauh sampai jam makan siang. Masih baby steps memang, tapi paling tidak dia sudah kenal dengan lingkungan Kita.

M akan lanjut masa Eingewöhnung lagi setelah Sommerferien, sekitar mid Agustus.

Perjalanan masih panjang

Masih, masih banget. Kami baru bisa benar-benar lega kalau M sudah bisa ditinggal seharian penuh di Kita dan jadwal kami sudah stabil. Sekarang ini, semuanya masih kacau balau. Jadwal kerja kami masih ga tentu dan karena M masih masa penyesuaian, kami ga tahu kapan kami tiba-tiba bisa ditelpon dan diminta buat jemput M. Huff.

But again, bismillah. This too shall pass. Alhamdulillah sekali buat banyak bantuan dan kemudahan yang datangnya dari arah yang ga disangka-sangka – terutama fleksibilitas dari company kami yang percaya kalau kami tetap akan memenuhi kewajiban kami walaupun harus bekerja dari rumah beberapa kali seminggu sampai urusan Kita ini selesai.

Mohon doanya ya supaya ini selesai dengan baik!

WhatsApp Image 2018-07-19 at 10.12.58
M di kinderwagon sama teman-teman kiciknya

Yang masih galau,
92c4a39ccb411b660632f537ac085077

2 comments Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *