Setelah 12 Tahun

Bismillah,

Jadi beberapa hari yang lalu ada yang woro-woro di whatsapp grup #1minggu1cerita kalau tanggal 27 Oktober ini adalah hari blogger nasional. Whoo.

Saya ga ngerasa pantas sih dibilang blogger karena isi blog ini kebanyakan ngalor ngidul plus recehan-recehan yang bisa sambil dibawa lalu aja, haha. Tapi mau ga mau jadi kepikiran, sudah berapa tahun ya saya mulai nulis online diary ini? Apa bedanya ya waktu saya pertama kali mulai nulis blog dengan sekarang? Tulisan-tulisan saya sih masih tetap recehan, tapi paling ngga, ada ga ya yang menuju arah yang lebih baik? #ciyeee

Continue reading “Setelah 12 Tahun”

Setelah Demam

Bismillah,

Ga terasa udah sebulan lebih ga nulis disini ya. Ya ampun. Drafts sih masih banyak tapi motivasi buat nulis somehow menguap begitu gampang bilang aja males sih Fan.

Anyway, sebenarnya beberapa minggu lalu saya udah ada draft tulisan yang siap buat di publish, tinggal di polish sedikit sama tambahin featured image, tapi qadarullah, pas minggu itu saya malah tumbang karena demam 3 hari. Suhu badan saya naik turun 39-40 – lumayan miserable sampai-sampai Suami saya bilang baru sekali ini beliau lihat saya sesakit itu selama 6 tahun nikah :’D
Continue reading “Setelah Demam”

Diaspora

Bismillah,

Sebagai diaspora yang sudah merantau jauh dari tanah air sejak 13 tahun yang lalu, ada masa-masa dimana saya merasa homesick parah dan ingin sekali pulang. Back for good.

Saya kangen masakan Indonesia. Saya rindu jajanan-jajanan pinggir jalan yang kurang higienis tapi toh akan tetap saya lahap juga.

Saya kangen bertegur sapa dengan orang-orang dalam bahasa saya sendiri.

Saya rindu naik angkot. Turun seenaknya di tengah rute angkot tanpa harus memikirkan saya mestinya berhenti di bus stop yang mana.

Saya kangen tinggal di Jakarta – dengan segala kesemrawutan dan macetnya.

Saya rindu jadi bagian dari kota dimana saya menghabiskan 18 tahun pertama hidup saya.

Lalu saya sadar – kalaupun saya pulang sekarang, Jakarta yang sekarang sudah bukan lagi Jakarta yang saya rindukan.

Atau mungkin karena kalau saya pulang nanti, tantangan yang harus saya hadapi sudah berbeda dengan tantangan dari Jakarta 13 tahun yang lalu.

Saat saya back for good nanti, saya sudah harus memikirkan bagaimana bertahan hidup di Jakarta. Biaya sekolah, akses ke fasilitas kesehatan, sewa rumah, dsb, dst.

Mungkin wacana back for good ini hanya akan jadi wacana, atau mungkin akan kami eksekusi secepatnya. Who knows.

Yang jelas saat ini, detik ini, saya kangen Jakarta.

photo-1470847355775-e0e3c35a9a2c-1024x1280
Source: here

 

Oversharing dan Rumah Tangga

Bismillah,

Tetiba jadi pengen bahas ini gara-gara abis baca artikel ini.

Jangan fokus ke Nia Ramadhani nya ya :p.

Saya setuju banget sama apa yang dibilang mbak Nia dan mas Ardhie (sok ikrib, ciee).

Setiap pernikahan kan pasti ada masalah, nggak mungkin nggak ada berantemnya. tapi kita nggak pernah curhat-curhat di medsos. Kita selesaikan di kamar berdua sudah.

Dalem banget guys. And so true.

Terus komentar psikolog nya juga jleb.
Continue reading “Oversharing dan Rumah Tangga”

Kesempatan dari Papa

Bismillah,

Bicara soal kesempatan, saya mau ga mau jadi ingat Papa.

I don’t have such a close relationship with him. I am not Daddy’s little daughter at all. Memori saya tentang masa kecil saya dengan Papa adalah Papa yang keras dan mendidik saya dengan tangan besi.

Papa saya selalu bilang, beliau tidak bisa mewariskan harta pada saya dan adik-adik. Yang bisa beliau berikan untuk kami hanyalah pendidikan. Dan untuk itulah, Papa mendidik kami dengan sungguh-sungguh.
Continue reading “Kesempatan dari Papa”

Why I can’t ever be a professional blogger

Nowadays, every time I read people’s blog, it seems like everyone has their own niche. Some focus on parenting, others choose cooking, and the rest are choosing whatever they think they are doing best.

Based on what I read, they think it will help them target the correct readers and perhaps, correct sponsors to help them in monetizing their blog. Being a professional blogger.

Nothing is wrong with that, haha. But I just think it’s boring.
Continue reading “Why I can’t ever be a professional blogger”

Together

Tiap kali Ramadhan, rasanya hati jadi mellow satu bulan :’) Dan lebih-lebih lagi tahun ini karena ini pertama kalinya kami puasa di Eropa (18 jam!) dan jauh dari segala macam suasana Ramadhan yang dulu kami rasakan di Asia.

Makanan halal yang berlimpah ruah.
Suara adzan dari mesjid di dekat rumah.
Komunitas Muslim yang besar.

Saya dan suami menghabiskan separuh umur kami di Singapura. Boleh dibilang, kami besar dan menjadi dewasa di sana. Anak-anak kami pun lahir disana. Sewajarnya kalau kami merasa kehilangan dengan suasana Ramadhan di Singapura, terutama dengan teman-teman sesama Muslim disana.

Sejujurnya waktu kami memutuskan pindah ke Berlin, saya sempat nangis karena bakalan kangen berat dengan teman-teman di Singapura.

Tapi alhamdulillah, sejak kami sampai di Berlin, kami disambut dengan komunitas Muslim yang juga sama baiknya. Dari merekalah kami merasa kemudahan-kemudahan mengalir di waktu kami membutuhkan. Mulai dari info makanan halal, kegiatan mesjid, bahkan sampai mencari pengasuh anak dan pesan kue Lebaran.

Bumi Allah itu luas, dan sesungguhnya persaudaraan antar sesama Muslim itu bahkan lebih luas lagi.

Benar adanya kalau kebersamaan dan silaturahmi itu bisa memperluas rezeki. Dan lebih penting lagi, membuat betah untuk tinggal jauh dari tanah air.

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman [55] )

H-7 Idul Fitri. Yang kangen mudik.
92c4a39ccb411b660632f537ac085077

Pengaturan Keuangan Keluarga

Sudah hampir akhir bulan, dan artinya apa? Gajian yesss.
Tapi tunggu dulu.
Tagihan telpon, listrik, gas?
Sewa rumah, cicilan kendaraan?
Biaya sekolah anak, les, jalan-jalan?
Keperluan pribadi, pos buat orang tua, nabung dana pensiun, dana darurat?
Dan tiba-tiba saja rekening gaji berkurang 80% *nyesss*


Preambule nya panjang amat tapi intinya sih saya ingin coba berbagi manajemen keuangan keluarga ala keluarga kami 😆

Jadi ceritanya, sejak kecil, saya termasuk yang organized soal uang. Mungkin bukan organized lagi ya, tapi sudah taraf pelit kalau kata adek saya mah, haha.

Alhamdulillah, kebiasaan itu terbawa sampai sekarang dan membantu sekali saat saya membuat budget bulanan keluarga kami.

Disclaimer dulu ya. Mungkin ada beberapa tips saya yang ga applicable karena kondisi tiap orang pastinya berbeda-beda – tapi mudah-mudahan ada yang berguna.
Continue reading “Pengaturan Keuangan Keluarga”

Kembali Nonton J-Dorama

Berhubung lagi minggu hectic (baca: anak-anak lagi pada sakit dan saya sendiri tumbang karena batpil), akhirnya memutuskan buat nulis yang ringan-ringan aja, such as.. Drama Jepang *jeng jeng jeng*

Preambule – dari kecil saya udah doyan nonton dorama Jepang, tapi kan dulu akses terbatas yaa, jadinya ya cuma modal nonton dari tivi aja. Inget banget dulu Indosiar yang paling heboh kalo soal dorama Jepang, mulai dari “Tokyo Love Story”, “News no Onna”, “Long Vacation”, dsb dsb. Aaah, memories. Dulu juga masih jamannya nonton film/tv series asing yang di dubbing, dan saya masih hapaaal banget suara dubber-dubber nya Indosiar.
Continue reading “Kembali Nonton J-Dorama”

So goodbye, and smile.

So today is New Year’s Eve

And I am waiting for a train at Alexanderplatz. Going to our Boxhagener house to collect a few items left while letting Husband taking care of Z and M at our Moabit house.

Feeling mellow right now cause .. this will be the last time I am coming to Boxhagener house 🙁

I only stayed there for a month but that house saw a lot of memories already. M took his first long steps there. It saw us struggling with finding house and nanny and all..

I have moved house three times this year and each move was so sad. Why do I have to feel so attached to a house? And when can we settle down?

2017 has been a year of changes for us. From moving to Hougang to Kovan. From Kovan to Berlin. And now from our Boxhagener house to our Moabit house.

When we moved from Hougang, we only looked for a house that is temporary or 6 months at least cause Husband already accepted an offer from Berlin and he wanted us to join him as soon as we can – it made no sense if we rent another house for a year.

But I haven’t found a job yet so the best we could do is looking for a short-term house with a possible extension.

I remember feeling so uncertain. I cursed myself for saying yes to Husband.

And then we found Kovan house.

The house was smaller than Hougang. But it’s only 5 mins away from Z’s school. And to Kovan MRT, it’s only two stops away. We also had playground right below our block.

We moved there and I secretly hoped we could call it home.

And then came that offer from Berlin in September.

We were only at Kovan for less than two months and we were already going to say goodbye to even more precious things we had in Singapore.

Our helper.
Z’s school.
Friends.
Our Muslim community.

My heart still breaks remembering all of those. I really really couldn’t bear to think about it.

But I need to follow Husband. Our family is not a family without him.

As I am typing this, I am crying a bucket.

I left Singapore with a heavy heart.

It’s been a month but it still feels like half of my heart is still with Singapore. I don’t know when can I call someplace else as home.

Maybe because I know that I probably will never be able to come back permanently to Singapore again.

Our next stop after Berlin will be another country or – going back home for good.

I .. don’t think I am ready for that yet.

I keep thinking what makes me miss Singapore so much. Sure I was there for 12 years but if I am being honest, I think I spent half of it complaining about Singapore and its system.

When I left for Japan in 2010, I don’t think I was ever this sad.

Maybe because of so many memories with my kids there?

They were born in Singapore. They thought Singapore is their home. Heck, even Z called himself “Singaporean”!

M didn’t know about all of these yet but if he does, I’d think he would also call himself Singaporean.

Agh, this post is getting more difficult to write.

I guess I need to find a way to deal with my own feelings. I can’t always cry and sad every time I remember Singapore anyway.

In the meantime..

Happy new year 2018!