Stroller Hunt

So the story is, Zal has outgrown his stroller. Our fault really, we didn’t really think of this when we bought the stroller a few months before I was due. All we could think of that time was that we wanted something light so it’s easier to be fold hence it’s easier for us to travel.

To be honest, we love our stroller. It’s light and serves its purpose. But yes, it looks very small, and the wheels started to wear off it’s getting very hard to control. And another thing is, apparently Zal has a very sensitive skin; something we only knew when he got eczema a month ago and the doctor told us to pay more attention to fabrics we used that touch his skin, e.g his stroller’s seat. And well.. we have to admit that its fabric is pretty rough.

After we knew about his sensitive skin, the more we need to find the new stroller. So Husband started browsing around based on our requirements:

  1. Sturdy
  2. 3-wheeled so it’s easy to control
  3. Doesn’t look too bulky
  4. Below 500 bucks
  5. Soft and comfortable fabric
  6. Big enough for Zal

I know that point (3) and point (6) may be hard to be fulfilled together since Zal is a pretty big boy now, and he will only be getting bigger and heavier. We may need to compensate one for another, but so far, we have few choices based on our lists.

Quinny Zapp Xtra 2

image

Yep, Quinny. The (seemed to be) the most popular brand when it comes to 3 wheeled strollers. It’s sturdy, it fits big babies, it looks like it has soft fabric, and it’s easy to control. Well, the problems are it’s quite pricey and it’s bulky. I and Husband don’t really like how it looks, to be honest. Which brings us to option number 2.

Baby Jogger City Mini

image

It looks quite similar to Quinny, but it’s slightly lighter than the former. I really like the full canopy as well. Husband really likes this one too. Not like other stroller’s brand, this one is not really a popular choice, and we could only see it on big baby shops or baby fairs (booohooo); makes it difficult for us to see it in real life.

***

So we decided to go with Baby Jogger. There’s a baby fair next month in Singapore and we are hoping that we could get one Baby Jogger there with a bargaining price. But first, we want to make sure that we are comfortable with the stroller. Off we went to search about where to buy this brand so we can test it out.

After some quick Google search, apparently, Motherswork is a well-known retailer for Baby Jogger. Hmm. OK. Looks legit though.

So a few weeks ago we were taking Zal out to Central and also to look for Motherswork outlet at Marina Bay Sands. We thought it’s going to be a big fancy store, at least with a size of Kiddy Palace store. But apparently, it’s just a tiny store with very limited displays of a stroller. And there’s not even one Baby Jogger model available there.

Thinking that perhaps their other branches would have the City Mini we are searching for, we went to check their Tanglin Mall branch – which is supposed to be its biggest outlet in Singapore.

Tanglin Mall is not located near any MRT station, and to be honest, it made me feel quite uneasy. I never like bringing Zal with a stroller, riding a bus. Cause buses in Singapore don’t allow a pram/stroller be taken inside without being folded. If Zal already understands what not to do, perhaps this is not really a big issue. But the boy just started to be able to walk and he just wants to go around to have an adventure, so it’s impossible to have him riding a bus without holding him – practically restricting him from going berserk.

Anyway, so we took a bus near Dhoby Ghaut MRT to reach Tanglin Mall. And after few stops, finally, we were there.

I was quite appalled.

The mall is really really small. It looks really old, and I almost couldn’t believe that this is the mall where expats are supposed to be shopping.

And worse, the Motherworks outlet there only have ONE Baby Jogger model, and it’s 4 wheeled, so we don’t even bother to try.

We went back home feeling tired and defeated. 💔

***

So until today, we haven’t been able to try Baby Jogger City Mini out. What is our plan now?

Well, for now, I am sticking to the Baby Fair. We’re going there on the second day and also for picking up my pre-order stuff (breast milk bags btw), and try to see if the City Mini is available. If it’s available, we can straight away put Zal in it and see if the boy looks OK.

Fingers crossed that this stroller is going to be able to last him until at least he’s 3 years old 🙏

Oleh-oleh ASIP Dari Jepang (part 2)

Setelah peralatan tempur siap, ada beberapa hal yang juga mesti saya siapin sebelum saya berangkat ke Jepang.

Baca juga: Oleh-oleh ASIP dari Jepang (part 1)

1. Cek hotel tempat nginap

Buat background aja: Dari hasil browsing2 internet, pada umumnya ibu2 yang pumping dikala business trip ini perlu fasilitas pendukung dari hotel which is… kulkas buat tempat nyimpan ASIP. Beberapa ibu cukup beruntung karena dapat jatah menginap di hotel berbintang yang punya fasilitas kulkas memadai (beneran kulkas, bukan cuma chiller) buat nyimpen ASIP. Sayangnya saya ga kebagian nginep di hotel kayak gitu. Yaaa, namanya juga business trip karyawan baru, saya mesti tau diri buat ga minta macam2.

Begitu tahu nama hotelnya dan mulai googling cari review kemana2, saya langsung punya feeling kalo hotel tempat saya menginap itu ga akan punya space buat nyimpen ASIP saya. Dari yang saya baca, mereka tipe boutique hotel yang cuma nyediain sarapan seadanya, i.e ga akan punya dapur sendiri kayak hotel2 berbintang. Just to check, I finally sent an email inquiring about their fridge, dan alasan kenapa saya perlu tahu soal kondisi fridge mereka.

Daaaaann, inilah yang bikin saya malas.

Kalo ada yang udah pernah berurusan sama orang Jepang, pasti tahu kalo mereka agak reluctant buat communicate in English, kecuali yang emang kerja di perusahaan asing. Berhubung Nihon-go saya juga ga bagus2 amat, saya pun ga punya pilihan selain nulis email in English. Seperti yang sudah saya duga, email saya ga pernah dibalas.

Mendekati hari keberangkatan, saya makin cemas karena ga ada kabar. Sementara saya baca dari review2 di internet, orang2 cuma nulis kalo di hotel ini tiap kamar ada mini fridge. Mini fridge? Se-mini apa? Atau jangan2 itu sebenernya cuma chiller? Aaah, bingung banget lah waktu itu >.<

Alhamdulillah, saya punya teman baik di Tokyo yang bisa saya hubungi. Mas Ibul, terimakasih banyak sekali T~T 

Teman saya akhirnya menelepon langsung ke hotel itu dan tanya2 soal kulkas disana, dan ternyata ketakutan saya beneran dong 🙁 Mereka bilang kulkas mereka cuma muat kira2 10 kantong @ 100 ml.

Saya jadi panik. Bingung solusi. Suami menyarankan sewa kulkas harian di Jepang, tapi menimbang2 susahnya akhirnya saya ga meng explore pilihan itu.

Alhamdulillah, mas Ibul punya kenalan yang tinggal nya cuma satu stasiun dari hotel tempat saya menginap. Dan dia membolehkan kulkas nya dipake sementara buat saya nyimpen ASIP. Waaa \^^/

Emang agak repot sih karena tiap malam saya mesti ke tempat temennya mas Ibul itu buat nyetor ASIP, tapi saya udah bersyukur banget ga perlu bingung masalah kulkas tempat nyimpan ASIP. Hehe.

Terus apa saya masih tetap nitip ASIP di hotel? Begitulah. Saya ga punya pilihan lain karena di kamar cuma ada chiller. Jadi ada beberapa sesi memompa di hotel yang mau ga mau, hasilnya mesti saya titipkan di kulkas hotel. Mengenai jadwal memompa saya selama disana, nanti saya bahas 🙂

Kesimpulannya, selalu cek ke hotel tempat menginap jauh2 hari sebelum keberangkatan, supaya bisa ada plan B.

2. Cek ke kulkas kantor (atau dimanapun bakalan berkantor selama business trip)

Dalam kasus saya ini, alhamdulillah hotel tempat saya menginap cuma berjarak 5 menit dari kantor. Jadi, hasil memompa di kantor bisa saya titipkan dulu di kulkas hotel. Tapi tetaplah saya mencari info soal fasilitas kulkas ini, dan alhamdulilah ada kok di kantor. Yatta \oo/

3. Cek tempat memompa di kantor

Saya belum pernah dengar ada perusahaan Jepang yang breastfeeding friendly, jadi saya agak ketar ketir juga waktu nanya soal ini ke office manager di sana. Dan benar saja lah, mereka ga punya nursing room atau sejenis nya disana. Tapi ada satu ruangan kecil di kamar mandi yang aslinya buat ruangan ganti baju tapi ga pernah ada yang pake. Ruangannya bersih, dan yang paling penting, ada colokan disana! Baiklah, satu lagi masalah teratasi \o/

4. Informasikan soal pumping ini ke manager/atasan selama disana

Buat saya, ini super penting. Saya ga mau nanti manager saya disana dapet kesan saya suka ngabur2 ngilang selama training. Saya email ke ibu manager saya, beritahu bagaimana jadwal saya, dan mencoba menyesuaikan dengan jadwal training yang sudah dia kirim jauh2 hari. Alhamdulillah, ibu manager mengerti 🙂

Oke, urusan cari info dan memberi info sudah beres. Apa saya bisa tenang? Belumm dong. Sebenernya ketakutan saya yang satu lagi adalah: takut Zal ga mau latching langsung begitu saya pulang 🙁

Ga ada yang bisa saya lakuin sih kalo soal yang ini. Bener2 cuma bisa berdoa aja supaya dia tetap mau nyusu langsung setelah 5 hari saya tinggal.

[Sebelum berangkat ke bandara dan di bandara]

Saya susuin Zal dulu sampai dia tidur. Begitu dia tidur, saya langsung berangkat setelah sebelumnya nangis2 sesunggukan. Sampe di taksi pun saya masih nangis T~T  Baru kali itu bakalan ninggalin dia lebih dari setengah hari, sejak dia lahir. Ga tanggung2 pula jauhnya. Kalo ga inget ini demi cari rezeki buat dia juga, rasanya ga akan kuat :'( Biarlah dibilang emak2 drama, yang namanya ibu pasti ngerti susahnya ninggalin anak sejauh itu, hiks.

Sampai di bandara, sembari nunggu waktunya check in, saya masih sempat mompa sekali lagi. Dan hasil pompa saya itu, saya titip ke Suami yang ikut buat nganterin saya. Lumayan buat sekali minum dan sekalian saya ngosongin PD supaya ngisi lagi. Demand = supply, people.

[Di pesawat]

Pesawat saya berangkat jam 1 pagi T~T Yassalam, sebenernya sih ngantuk banget. Dan mengingat saya mesti geret2 koper dari Haneda ke Meguro nantinya, godaan buat tidur itu besaaar sekali. Tapi apa mau dikata, saya harus disiplin!

Penerbangan ke Jepang sekitar 7 jam. Dengan jarak per 3 jam, berarti saya bisa mompa dua kali selama di pesawat.

Alhamdulillah saya dapet seat di isle. Tapiii, ternyata kiri kanan saya penuh orang. Dan mereka semua tidur! *ada yang ngorok pula zzz*. Well, bad news is, saya ga bisa mompa di kursi. The good news is, berarti saya bisa agak bebas nge hog WC.

Jadilah saya mompa di WC dengan Medela Swing Maxi. Btw, saya lupa satu barang yang saya bawa juga. Medela Quick Clean namanya.

Si Quick Clean

Emang itu apaan? Yaa sebenernya sih cuma wipes buat bersihin alat2 pompa. Asa ribet kalo saya mesti minta air panas banyak2 ke pramugari tengah malam buta gitu, dan ga praktis. Makanya beli ini biar tinggal lap, masuk lagi ke kotak dan siap buat pompa sesi berikutnya.

Selesai pompa di pesawat…

Sebelumnya saya udah siapkan kantong ASIP buat nyimpen es batu yang saya minta dari pramugari. Muka si mbak pramugari nya agak bingung gitu waktu saya minta es batu, dikiranya mungkin buat kompres luka atau demam kali ya :D.

Buat apa es batu? Buat dimasukkin ke cooler bag beserta ASIP hasil pompa, hehe. Sebenarnya ada option buat nitip ke pramugari dan ditaro di kulkas pesawat. Tapi saya malas rempong nanti mesti minta2 lagi ke pramugari menjelang landing. Ya udahlah, disimpen di cooler bag aja, insya Allah dinginnya kabin dan es batu lumayan menolong.

10689927_10152552689379613_2545390520043115315_n
Sampai di Haneda dengan muka bantal

[Selama training]

Seperti yang udah saya jelasin di atas soal kondisi hotel dan kantor saya, akhirnya saya pun menyusun jadwal seperti ini selama saya di Jepang.

Dini dan pagi hari:

Tengah malam buta pun saya paksain bangun tiap 3 jam demi mompa. Hasil pompa itu selalu saya setor ke kulkas hotel. Dan pagi hari, sebelum berangkat ke kantor, saya juga pompa dulu. Titip lagi di kulkas hotel. Dan inilah gunanya zip lock yang saya bawa. Buat ngebungkus si kantong ASIP, dan ditulis nama dan nomor kamar saya supaya ga ketuker. Tak lupa saya bilang ke receptionist, kantong ASIP ini bakalan saya ambil nanti malam.

Siang dan sore hari:

Mompa di kantor. Titip di kulkas kantor, tapi cuma biar dingin dan ga saya bekuin. Selese training tiap sore, saya bawa pulang dan taro di chiller di kamar.

Malam hari:

Saya mompa lagi setelah makan malam. Setelah itu saya ke receptionist hotel dan minta kantong ASIP yang saya titip tadi pagi, terus saya masukkan seluruh hasil pompa hari itu, termasuk yang ada di chiller ke Igloo Cooler Bag saya beserta beberapa bungkus ice pack. Setelah itu berangkatlah saya ke tempat teman mas Ibul.

Jadwal di atas saya ulang lagi selama 5 hari saya disana. Jumat pagi, sebelum saya check out dan berangkat ke bandara, saya masih sempat mompa sekali lagi.

Pesawat saya kembali ke Singapur jam 10 pagi. Sesuai budaya kiasu yang saya anut, saya menargetkan check in jam 8 pagi di Haneda :D. Dari Meguro (tempat hotel saya) ke Haneda sekitar 30 menit. Saya juga memberi buffer 15 menit, kalau2 ada apa2. Berarti saya berangkat dari Meguro sekitar jam 7 pagi. Karena saya masih harus ngambil ASIP di tempat teman mas Ibul, saya pun check out jam 6 pagi dari hotel. Bismillah.

Sesampainya di tempat mas Firman, saya langsung ngepak ASIP. Dan disinilah kejadian juga.. Fridge To Go ternyata ga muat 😮

Ga muat :(
Ga muat 🙁

Saya ga mau maksain, takutnya nanti malah pecah atau gimana di bagasi, akhirnya saya transfer sebagian ke Igloo Cooler Bag. Alhamdulillah, untunglah tas nya dibawa >.<

Waktu ngepak nya, sesuai rencana, saya sumpel2 lagi si FTG dan Igloo pake kertas koran sepadat yang saya bisa. Setelah beres, saya masukkan FTG dan Igloo ke koper dan saya bungkus lagi dengan pakaian saya.

Berangkatlah saya menuju Haneda~

[Di Haneda]

Saat saya sampai di Haneda, ada insiden kecil yang bikin panik. Di Haneda ternyata bangunan terminal lokal dan internasional nya kepisah jauh dan perlu naik shuttle bus. Saya salah turun kereta 🙁 Mestinya turun di stasiun yang langsung di terminal internasional, saya nya malah turun di stasiun lokal. Heughhh.

Untungnya saya berangkat lebih pagi, jadinya saya ga terlalu panik saat saya harus mengejar shuttle bus ke terminal internasional. Tapi ya agak ketar ketir juga jadinya.

Check in, masuklah koper saya ke bagasi beserta oleh2 buat Zal. Saya pun menenangkan diri. Saya sudah berusaha sebisa saya, sekarang lillahi ta’ala. Sambil tetap berdoa tentunya, supaya ASIP nya tetap beku sampai di rumah nanti.

Sambil nunggu waktunya boarding, saya pun berkeliling Haneda. Saya ingat pernah ada yang bilang di Haneda sudah ada praying room buat Muslim. Wah, menarik. Saya pun mencari2, dan ketemuuu.

Masuknya mesti pake intercom
Masuknya mesti pake intercom

Sedang bukan waktu shalat, jadinya ga ada siapa2 di dalam. Terlihat bersih, dan nyaman. Ada tempat wudhu pula di dalam. It’s true that Japan is getting more Muslim-friendly 😀

Momiji imitasi
Momiji imitasi

Waktu saya kesana, musim gugur belum benar2 dimulai dan daun momiji belum ada di Tokyo, ya sudahlah foto2 saja dengan yang imitasi :p

[Di pesawat]

Di pesawat balik ke Singapur, saya tetap mompa, ohoho. Bedanya adalah, pesawat baliknya ini ga seramai sebelumnya. Saya kembali dapat tempat duduk di isle, tapi sebelah saya kosong, yaay. Jadi saya pun santai mengeluarkan Medela Swing single pump saya, kemudian memakai selimut sebagai cover. Lebih hangat sih daripada nursing cover saya yang tipis, hihi. Saya pun memompa dengan damai, haaaa~

[Di Changi]

Nah inilah tantangan yang lain lagi sesampainya saya di Changi. Begitu saya sampai, ternyata hujan deras! Karena hujan, cargo unloading jadi ada delay. Saya mulai agak panik. Delay nya pun lumayan lama, sekitar 30 menit. Walhasil begitu koper saya terlihat, langsung saya sambar (btw, 21 kilo loh) dan melesat keluar cari taksi.

Ternyataaaa, saya kena macet juga di express way! Memang sih, Jumat sore, arus lalu lintas pasti ramai. Tapi saya kan naik express way menjauhi kota, kenapa masih kena macet juga :((( Ditambah lagi ada kecelakaan pula, makin lambat lah kami merayap di (not so) express way.

Total waktu yang saya habiskan dari mulai turun pesawat sampai ke rumah sekitar 2 jam. Saya mulai pasrah 🙁 Semoga kalaupun ada yang cair, ga banyak2 amat, hiks.

[Di rumah]

Buka pintu, dan langsung saya minta tolong sama Mbak Marni buat membongkar koper saya dan periksa kondisi ASIP. Deg2an super >.<

Alhamdulillah, ternyata 4.8 liter yang saya bawa pulang masih beku! Subhanallah, terharuuuu. Langsung semuanya masuk freezer!

Terus, defisit ga? Wkwkwk, sayangnya iyaa. Ternyata Zal minumnya jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan. Diliat dari catatan mbak Marni, Zal habis 5.9 liter selama saya tinggal. Wakwakwakwak.

Daan, pertanyaan lain lagi.. apa Zal masih mau nyusu langsung?

Alhamdulillah lagi, MASIH MAU DAN TETAP SEMANGAT. Wkwkwk. Lega deh rasanya liat anak yang langsung berseri2 nyambut ibu nya pulang dan langsung dengan semangatnya nyusu, kangen beraaatttt.

Kesimpulannya? Bersyukur banget trip yang satu ini saya lalui dengan baik. Emang ribet, emang susah, apalagi deg2an nya yang bikin saya hampir nangis. Tapi kalo emang niatnya baik, insya Allah jalannya di lempengin deh 🙂

Oh ya, dan ini juga jadi training yang bagus buat Papa nya Zal, hihi. Biar belajar gimana caranya nidurin anak kalo malam :p

Oleh-oleh ASIP dari Jepang (part 1)

Intermezzo dulu ah~ Alhamdulillah saya dapat tawaran kerja baru di sebuah company yang HQ nya di Paris dan baru buka cabang di Singapur buat pasar South East Asia mereka. Dan karena mereka baru buka cabang, otomatis orangnya belum banyak, dan orang yang belum banyak itu pun harus di training dulu. Sebagai pegawai ke-8 (iya, baru delapan orang xD), saya pun kena tugas mulia training ke Jepang. Kenapa Jepang? Karena HQ mereka di kawasan APAC adanya di Jepang. Dan manager saya pun sebenernya basis nya di Jepang.

Well sebenernya kalo boleh milih sih saya ngga pengen training jauh2 huhu. Belum apa2 udah kepikiran rempong nya mesti mompa dan bawa balik ASIP buat Zal. Maksudnya, Fan? Tetap mau mompa ASIP selama training? IYA DONG. Alasannya?

1. Yang namanya ASI itu supply and demand. Kalo saya berhenti mompa tanpa ada direct latch dari Zal, otomatis badan akan berpikir kalo Zal udah ga butuh ASI lagi dan mengirimkan sinyal buat berhenti produksi ASI. Bayangkan kalau 5 hari!

2. Stock ASIP saya alhamdulillah lumayan berlebih. Tapi Zal ini bayi yang doyan ASI, walaupun udah mulai makan dan minum air putih. Konsumsi sehari2 dia kalau saya tinggal kerja adalah sekitar 500-600 ml. Saya perkirakan kalau 24 jam itu konsumsi ASI Zal bisa sekitar 1 L. 5 hari berarti 5 L, kurang lebih. Wadaw, terlalu riskan kalau saya terlalu mengandalkan stock. Bukannya ngga cukup sih buat 5 hari, tapi saya ga mau jumawa karena bisa aja saya butuh nyiapin stock lagi buat kalau ada keperluan darurat.

Dengan pertimbangan di atas itu, udah jelas kalau mau ga mau saya harus tetap pumping. Waktu saya dapat kabar sebulan sebelum saya berangkat, saya langsung browsing buat cari tahu apa aja yang harus saya siapkan buat bisa tetap pumping dan -yang paling penting-, bawa ASIP balik ke Singapur dalam keadaan masih bagus.

Continue reading “Oleh-oleh ASIP dari Jepang (part 1)”

{Cerita MPASI} Makan bubur, hore!

Setelah sebulan ini selera makan Zal naik turun naik, akhirnya saya memutuskan…

…berhenti food combining! *hahaha*

Ceritanya begini.

Waktu Zal hampir umur 7 bulan, saya ngobrol2 dengan kakak saya yang anak nya cuma beda dua bulan dengan Zal. Kakak saya cerita anaknya berhenti makan puree buah dan mulai makan bubur campur begitu masuk 7 bulan. Salah satu teman saya yang anaknya lebih tua sebulan dari saya juga cerita kalau anaknya kurang suka waktu makan puree buah, tapi semangat waktu makan bubur campur kaldu.

Memang sih saya sempat kepikiran kalau siapa tahu memang Zal bosan dengan rasa yang itu2 saja. Buahnya memang diganti tiga hari sekali, tapi somehow saya punya feeling Zal sudah jenuh. Dia mau yang lain, yang lebih berasa buat lidah nya. Dan lagi2 feeling emak2 sih, saya ngerasa Zal punya selera yang sama kayak saya waktu saya hamil dulu. Saya senang yang gurih2!

Akhirnya waktu Zal tepat 7 bulan, saya memutuskan berhenti food combining! Selain bikin stress, saya juga yakin Zal sudah siap buat makan apapun yang sesuai umurnya.

Maka mulailah saya meramu kaldu :p Resep didapat dari kakak saya aka Ibuk nya Kamal.

Kaldu Ayam/Daging:

– 300 gr ayam bertulang/daging, buang lemaknya.
– 2-3 lbr daun salam
– 2-3 lbr daun jeruk
– 1 batang daun bawang
– 4-5 lbr daun seledri
– 1/2 bawang bombay, iris tipis2.
– 1 siung bawang putih, geprek

Campur semua dalam panci, tambahkan air matang sampai panci penuh, masak dengan api kecil. Begitu air berkurang 1/4 nya, matikan, saring kaldunya. Kalau masih ada lemaknya, saring lagi. Dinginkan.

Begitu dingin, biasanya si kaldu ini saya pisah2 dalam kantong kecil. Idealnya, saya bisa dapet 6-7 kantong @ 100 ml, yang untuk sekarang adalah porsi masak Zal sehari. Ayam dan dagingnya juga saya ambil sedikit buat makanan Zal, sisanya sih biasanya saya pake buat makanan sekeluarga juga hahaha. Maklum, disini kalo beli ayam/daging ga bisa cuma sedikit. Mesti beli satu paketan.

Terus masak apa pake kaldu ayam/daging ini?

Saya emang kurang kreatif soal masak memasak ini. Tapi saya selalu usahakan ada sayur dan protein tiap kali Zal makan. Jadi si kaldu dan bubur beras ini selalu saya campur dengan sayur (sweet bean, wortel, labusiam, zucchini) dan protein (daging sapi, daging ayam, tempe, tahu).

Masaknya gimana?

Segala puji bagi slow cooker!! *haghaghag

Berhubung saya emak2 pekerja tapi masih tetap pengen masak buat anak, akhirnya saya beli slow cooker. Kan enak yah, tinggal cemplang cemplung aja, trus bobok deh, besok paginya siap buat makan anak.

Setelah tanya dan browsing sana sini, akhirnya memutuskanlah beli si Takahi 0.7 L ini :D. Luarnya doang yak keliatan gede, asliknya sih kecilll. Wong buat masak bubur Zal aja cuma cukup buat dua kali makan, haghaghag.

Waktu awal2 Zal baru mulai makan bubur, saya masih alusin bubur nya pake food grinder kayak di bawah ini *again, atas rekomendasi Ibuk nya Kamal*

Trus bagaimanakah selera makan Zal setelah berbubur kaldu ria?

Alhamdulillah, LANCAR JAYA. Yang tadinya awal2 makan cuma pake beras satu sendok bebek, sekarang udah meningkat jadi dua sendok makan bebek.

Mari kita lihat bagaimana progressnya setelah 1-2 bulan hahaha. Semoga tetap semangat! 💪🏻

Perjuangan Demi ASIX! (Part 2)

Setelah peralatan tempur lengkap, sekarang yang perlu adalah eksekusi yang tepat!

Cuti hamil saya by default 2 bulan. Tapi saya memutuskan buat ambil another unpaid leave for about a month. Pertimbangan saya adalah, 2 bulan terlalu sedikit untuk cuti hamil (yes, that’s why Singaporeans get 4 months for their maternity leave~), dan Zal tentunya masih terlalu kecil buat langsung ditinggal. Pertimbangan lainnya adalah, supaya saya punya buffer sebulan buat mulai nge-stock ASIP.

{Stocking ASIP}

Nyetok ASIP adalah salah satu cara buat ngebantu ngerasa lebih tenang begitu masuk kantor nantinya. Saya yakin produksi saya ga akan sebanyak sebelumnya begitu saya masuk kantor, jadi yah, supaya bisa lebih tenang dan ga kejar2an nantinya, saya mulai mompa dan nyetok ASIP tepat sebulan sebelum masuk kerja.

1511367_10152134326839613_1313023014366169225_n
Stock ASIP sebulan sebelum balik ngantor

Berbekal botol2 kaca oleh2 dari Kakak, saya mulai mompa ASIP. Jadwal saya adalah sehari dua kali, pagi dan malam. Saya ga mau terlalu ngoyo karena Zal juga masih butuh banyak ASI. Target saya sekali mompa saya mesti dapet 100 ml, sesuai jatah Zal sekali minum.

Susahnya mompa dan nyetok sambil tetap kasih ASI adalah, kadang2 pas kita lagi asik2nya mompa dan belum sampe target, tiba2 anak nya nangis lapar :P. Kalo udah gitu langsung deh saya stop mompa dan nyusuin Zal. ASIP yang udah saya pompa, saya masukkin ke kulkas dulu. Nanti selese nyusuin Zal, saya lanjut lagi mompa sampe dapat target.

Mompa malam2 juga tantangan buat saya. Karena kadang2 saya nyusuin Zal sampe ketiduran. Tapi alhamdulillah, saya selalu kebangun, hehe. Tapi pernah juga saya kebangun jam 2 pagi, terus keinget belum mompa yang sesi malam. Akhirnya mompa deh sambil ngantuk2.

Sehari sebelum balik kantor, alhamdulillah saya bisa dapet sekitar 80 botol+kantong ASIP 🙂 Alhamdulillah.

Stock ASIP sehari sebelum balik ngantor
Stock ASIP sehari sebelum balik ngantor

Karena botol ASIP nya habis, jadi saya juga pake plastik ASIP. Saya kurang ilmu soal organizing plastik ASIP, harusnya nih plastik ASIP itu di taro nya ditidurin dulu. Jadi lebih gampang nanti diatur nya kalo udah beku. Dan bisa muat lebih banyak di kulkas nya nantinya.

{Jadwal pompa}

Alhamdulillah, saya dapat kelonggaran dari kantor buat bisa mompa. Kantor saya termasuk yang nursing-mom friendly 🙂 Ada dua bilik di nursing room yang dipake bergantian. Dan satu kulkas khusus buat nyimpen ASIP.

Nursing room di kantor
Nursing room di kantor

Gimana jadwal pompa nya? Di blog2 yang saya baca dan dari saran teman2, sebaiknya memompa itu 3 jam sekali. Dan kuncinya buat maintain produksi ASI adalah: DISIPLIN.

Jadwal memompa saya adalah sebagai berikut:

  • Pagi (di rumah): 7.00 – 7.45
  • Pagi (di kantor): 10.30 – 11.15
  • Siang: 14.00 – 14.45
  • Sore: 17.00 – 17.45

Hari pertama saya memompa di kantor, alhamdulillah saya bisa bawa pulang 500 ml ASIP, jadi inilah yang saya jadikan target setiap harinya. Di hari2 lain, kadang2 saya bisa dapat 600 ml. Tapi namanya juga tergantung hormon, kadang2 bisa juga produksi nya seret. Saya juga pernah ngalamin. Pagi yang biasanya saya bisa dapet minimal 100 ml, pernah suatu hari cuma dapat 60 ml. Atau yang biasanya sekali sesi di kantor bisa dapet 200 ml, cuma dapet 100 ml. Waktu awal2 stok saya sempat turun, saya sempat stres juga, sampe pernah bela2in ambil cuti supaya bisa istirahat di rumah dan nyusuin Zal langsung supaya stok ASIP di rumah ga kepake. Tapi kan ga bisa ya gitu terus, hehe. Saya punya beberapa tips yang alhamdulillah ngefek.

{Tips Mompa}

Psychological side, saya selalu mikir positif, such as below:

  1. Berapapun jumlahnya, syukuri!
    gampang ngomongnya, susah execute nya. Susah banget buat ngerasa bersyukur atas apa yang sedikit, apalagi kalo kita udah biasa dapet banyak. But I did it, with another magic word…
  2. Rezeki tiap anak udah diatur dan dicukupkan sama Allah.
    Waktu Zal lagi butuh banyak, ya Mama nya dikasih banyak. Kalo Zal lagi ga butuh sebanyak biasanya, ya dikasihnya secukupnya. Yakin aja, insya Allah cukup =]
  3. Rilek, rileks, rileks
    kombinasi 1 dan 2 di atas bisa bikin pikiran lebih rileks. Udah berusaha mompa, udah pasrah. Sudah, rileks deh jadinya insya Allah.

Technicalities nya:

  1. Kalo pake pompa, usahakan selalu akhiri dengan marmet (merah pake tangan :p). It helps emptying both breats, jadi produksi selanjutnya insya Allah bakalan lebih baik.
  2. Usahakan dapat sebanyak2nya pada sesi pumping pagi sebelum brangkat ngantor. Kalo paginya udah dapet banyak, di kantor bakalan lebih rileks dan ga bakalan kepikiran buat terlalu ngejar target. Efeknya bisa dapet lebih banyak juga daripada biasanya =]
  3. Latch on sesering mungkin begitu pulang kantor dan weekend.
  4. Night feeding helps!! Banyak ibu yang ngeluh kalo anaknya sering bangun malam minta nyusu, karena paginya jadi kurang tidur. Tapi buat saya, this is blessing in disguise. Zal termasuk yang sering banget kebangun buat nyusu, dan karena dia sering latch-on, it really helps building my production =]

{Bawa pulang ASIP}

Like I said above, alhamdulillah di kantor saya ada kulkas khusus buat naro ASIP. Pagi begitu sampe kantor, saya masukkin ice gel yang saya bawa dari rumah. Setiap selese mompa, saya biasanya langsung masukkin ASIP nya di freezer. Khusus yang ASIP hasil pumping sesi sore, biasanya ga saya masukkin kulkas karena udah deket jam pulang. Sebelum pulang, saya mampir ke nursing room buat ngambil stok ASIP hasil hari itu. Masukkin cooler bag plus ice gel yang sudah beku, baru deh pulang. Alhamdulillah lagi, perjalanan pulang saya ga pernah lebih dari satu setengah jam. ASIP langsung masuk freezer kulkas begitu saya sampe rumah.

ASIP di kulkas rumah
ASIP di kulkas rumah

{After ASIX}

Hasil pompaan saya memang tidak melimpah ruah, cenderung stabil di angka 500 an, hehe, tapi alhamdulillah so far selalu cukup buat Zal sampai akhirnya dia lulus ASIX bulan lalu. Dan insya Allah, saya akan terus komitmen buat kasih ASI ke Zal sampai haknya terpenuhi di umur 2 tahun nanti. Like what my friend said once, “Menyusuilah dengan keras kepala!!”

Working mummies, don’t give up =]

Perjuangan Demi ASIX! (part 1)

Pusing nyusun menu MPASI, akhirnya saya milih buat nulis sebentar. Phewww. Beneran deh yak, nyusun menu MPASI ini bikin saya mikir kerepotan saya pas hamil dulu itu lewaaaattt.

Anyway, udah 3 minggu Zal mulai makan, dan hasilnya yaaa gitu deh 😐 Mama nya masih bingung Zal sukanya apa. Anak nya moody, sama kayak emak nya. Tadinya berharap nya mah nafsu makan membuncah gitu ya, tapi apa daya, ternyata doi belum nafsu sama MPASI. Kalo sama air putih doyan banget! Kalo ga distop kayaknya segelas sendiri bakalan abis deh tiap makan.

Anyway, buat mengenang masa2 ASIX *hazeeek*, kayaknya mending didokumentasiin deh gimana perjuangan *hazeeeek lagi* kami (saya, Zal, dan suami) buat sampe lulus ASIX ini. Hahiy~ Continue reading “Perjuangan Demi ASIX! (part 1)”