Sudah Makan Apa, Zal?

Alhamdulillah, Zal lulus S1 eksklusif! \\o//

Lulus S1

Rasanya legaa banget akhirnya bisa genap 6 bulan Zal minum ASI. Walaupun dengan segala keterbatasan dan keribetan yang ada, such as mesti mompa sebelum brangkat ngantor dan 3 kali lagi di kantor, bawa2 pompa dan segala pernak perniknya, kadang2 mesti minta tolong teman buat mengcover kerjaan, dsb, tapi again, alhamdulillah, saya dikasih kelapangan buat ngasih ASIP ke Zal. Saya tahu, ga semua working mom di luar sana bisa dapat kemudahan seperti saya. Alhamdulillah, ada kolega2 baik hati, ada keluarga yang selalu mendukung, dan pastinya si kecil yang ga susah dikasih ASIP via botol, dan alhamdulillah, so far ga ada nipple confusion.

Setelah 6 bulan ASI, waktunya Zal makan! Hohohoho.

Zal tepat usia 6 bulan itu pas 12 Agustus. Tapi mamam nya ditunda sampe tanggal 16 Agustus biar Mama Papa nya di rumah :p Iya dong, masa anak makan pertama kali terus ga ada sesi foto2 nyaa. *salah fokus* Hehehe, ya ngga juga sih, tapi pengen di rumah soalnya takut Zal ternyata alergi atau sembelit gitu. Kan insya Allah bayi lebih tenang kalo ada orang tua nya, jadi ya bismillah. Makan pertamanya Zal pun dimulai tanggal 16 Agustus, horeeeee 😀

Jadi, Zal makan apa yah?

10537724_10152395145494613_162192163084341830_o Continue reading “Sudah Makan Apa, Zal?”

Hari-hari Pertama

Waktu hamil, saya sudah banyak mencari informasi soal ASI, terutama bagaimana cara memerah ASI dengan pompa dan penyimpanan ASIP saat saya kembali bekerja nanti. Alhamdulillah, Mama menyusui saya dan adik-adik sampai kami genap berusia 2 tahun, jadi beliau juga sangat mendukung saya untuk memberikan ASI sampai hak ASI Zal terpenuhi. Alhamdulillah juga saya ada di lingkungan yang sangat sangat pro ASI baik via social media atau pergaulan sekitar. Rumah sakit tempat saya melahirkan juga mendukung exclusive breastfeeding.

Salahnya adalah, saya berpikir yang namanya menyusui itu gampang.

Kenyataannya? Buat saya sih, tidak sama sekali 😀

Proses IMD Zal bisa dibilang setengah gagal setengah sukses, hehe. Menurut yang saya baca, seharusnya saat IMD itu bayi dibiarkan mencari sendiri puting susu ibunya. Tapi yang terjadi pada saya dan Zal adalah… Zal langsung diletakkan di dekat puting saya. Haiyah. Tapi alhamdulillah, Zal langsung mengecap puting dan tampaknya tahu kalau puting susu itu adalah sumber makanan dia satu-satunya selama 6 bulan ke depan 😀

Beberapa jam setelah melahirkan, Zal yang tadinya dibawa ke nursery room supaya saya bisa beristirahat (proses melahirkan 14 jam membuat badan saya remuk redam) dibawa kembali masuk ke kamar inap dan saya diajarkan cara menyusui oleh konsultan laktasi. Awalnya ternyata susaaahhhh. Perlekatan Zal masih belum sempurna, jadi dia hanya bisa hap sebentar lalu lepas lagi dari puting. Saya sendiri sempat kaget karena persepsi saya yang sebelumnya mikir ‘bayi itu tinggal hap lalu langsung menghisap’. Salah besaaarrrr.

Akhirnya sang konsultan laktasi (LC) memijat payudara saya, dan beberapa tetes cairan kolostrum pun keluar. Mbak LC langsung sigap menampung beberapa tetes kolostrum itu dengan syringe, lalu diberikan pada Zal. Mbak nya pun terus menyemangati saya supaya rajin-rajin menyusui Zal.

Setelah itu, apakah semuanya jadi lancar? Lagi-lagi jawabannya tidak. Susaaaaah sekali membuat perlekatan Zal sempurna. Kalaupun saya merasa dia sudah hap, saya tidak benar-benar merasa dia menghisap. Agak cemas rasanya. Dan saya sempat takut Zal divonis kena jaundice.

Dua hari di rumah sakit, kami pun pulang ke rumah. Kadar bilirubin Zal waktu itu masih dalam batas wajar. Lega lah kami.

Setelah itu, selesai? Again, no.

Sehari setelah pulang dari rumah sakit, saya ingat sekali, Sabtu tanggal 15 Februari, tiba-tiba payudara kanan saya mengeras. Tidak ada ASI yang keluar. Zal pun tidak mau menyusu. Sakittttt sekali rasanya. Saya tahu ada penyumbatan di payudara saya, tapi saya yang masih kurang ilmu soal clogged duct, tidak tahu harus berbuat apa. Alhamdulillah payudara kiri saya masih mengeluarkan ASI. Saya pun memompa ASI saya yang masih belum banyak (tapi insya Allah cukup karena Zal juga belum perlu minum banyak), dan Zal diminumkan ASI via syringe. Kenapa tidak disusui langsung? Ya karena Zal juga tidak mau 🙁

Sedih? Jangan ditanya. Saya yang masih belum pulih benar melihat bayi saya yang baru berumur 3 hari diminumkan ASI dengan syringe. Rasanya ingin menangis. Belum lagi saya harus memompa ASI tiap 4 jam sekali demi mengejar jatah minum Zal. Rasanya lelah sekali hari itu.

Minggu tanggal 16 Februari. Ulang tahun saya yang ke-27. Hari itu Zal kami bawa ke rumah sakit untuk check up. Di sini bayi memang perlu di check setiap 2-3 hari sekali sampai mereka berusia 2 minggu, untuk berjaga-jaga seandainya kena jaundice. Karena itu hari Minggu, maka Zal harus dibawa ke unit Child Emergency. Kami pun berangkat sambil membawa pompa ASI dan botol susu yang berisi ASI tidak seberapa. Ingin menangis rasanya kalau ingat itu :'(

Sampai di rumah sakit, Zal diperiksa oleh dokter jaga. Ternyata… kadar bilirubin Zal mencapai batas mengkhawatirkan. Yang bisa jadi adalah dampak dari kurangnya ASI yang masuk. Lagi-lagi saya rasanya ingin menangis. Kondisi payudara saya yang masih mengeras juga membuat saya merasa tidak enak badan. Saya bertanya apa ada LC yang masuk hari Minggu itu, dan tentu saja jawabannya tidak ada.

Sesampainya di rumah, saya menghubungi NUH breastfeeding hotline number. Ada yang mengangkat, alhamdulillah. Waktu itu saya ingat disarankan untuk memijat pelan-pelan payudara yang mengeras itu setelah sebelumnya dikompres dengan daun kol dingin. DAUN KOL? Saya waktu itu sempat berpikir ibu LC ini sedang bercanda 😀

Karena tidak ada daun kol di rumah, maka saya minta Suami mencarikan es batu untuk kompres. Setelah dikompres, saya pun mencoba memijat pelan-pelan, tapi lagi-lagi karena saya kurang ilmu, yang ada payudara saya malah semakin sakit, dan dingin. Malam itu Zal masih minum ASI dari syringe.

Esok harinya, alhamdulillah sudah hari Senin. LC menelepon saya dan meminta saya datang segera ke rumah sakit, kalau bisa sebelum jamnya Zal lapar. Tapi waktu itu saya berpikir mana mungkin saya membawa Zal dalam keadaan lapar? Saya putuskan memberi ASIP dulu sebelum kami berangkat ke rumah sakit. Dan keputusan inilah yang membuat saya seharian di rumah sakit hari itu, haha. Memang sok tahu itu seringnya berakibat fatal.

Anyway, sesampainya kami di rumah sakit, seorang LC yang tampak sekali sudah berpengalaman, membantu memijat payudara saya yang mengeras. Terasa sakit awal-awalnya, tapi alhamdulillah, pelan-pelan saya merasa ada yang mengalir, dan keluarlah ASI yang sudah menyumbat disana selama beberapa hari ini. Oleh LC, ASI yang keliatan sudah berwarna mulai putih itu dibuang. Dan saat aliran ASI saya sudah terasa agak lancar, Zal lah yang akan membantu selanjutnya, ‘because no pump in this world can be as effective as your own baby’, begitu kata ibu LC.

Sayangnya, Zal yang sudah terlanjur kenyang sedang tidur saat itu. Terpaksalah kami menunggu sampai dia terbangun dan lapar lagi. Sembari menunggu, payudara kanan dan kiri saya pun terus dipompa. Belakangan saya baru tahu, payudara itu harus sering dikosongkan supaya tidak tersumbat dan berakibat produksi ASI menurun. Haiyah. Kurang ilmu sekali saya ini.

Beberapa jam kemudian, Zal pun bangun. Dan saya pun diajari lagi cara menyusui yang benar supaya hisapan bayi bisa maksimal. Heugh, susah sekali sodara-sodara. Zal mengamuk beberapa kali sampai akhirnya dia mau menyusu dan mulai menghisap. Saya cuma bisa miris membayangkan hari-hari selanjutnya….

Pulang dari rumah sakit, saya pun dibekali oleh-oleh dari ibu LC berupa…. DAUN KOL BEKU 😀

Selesaikah perjuangan menyusui? Tentu saja belum….

Setelah kembali dari rumah sakit, saya masih belum percaya kalau daun kol beku yang dibekalkan ibu LC akan membantu masalah clogged duct saya.