It Has Been A Year

Today, a year ago, I left Singapore and the life that I had built there for 12 years.

I said goodbye to our helper who is so dear to us and our kids. Hoping that the new family she’s working after us is going to treat her kindly. She deserves that.

I said goodbye to my friends – without whom I would have not survived the grueling hours of the university and its assignments.

I said goodbye to the Indonesian community that always made me feeling like I am home – far away from home.

I said goodbye to the delicious halal food that is a plenty – easily reachable whenever I was bored with homemade food – and all of those hipster foods that I hadn’t had any chance to try.

I left the strong Muslim community I had – the weekly Sunday class with Ustadz Fatris, the chance to perform Ied prayer at open space – all the perks that I took for granted.

I took my boys away from the environment that they know so well – the friends that they have there, the comfortable weather all year, and all

We faced lots of hardships during our first few months here. I had emotional breakdowns – I needed to do so many things in a short time. Adjusting to the new job, new routines as a chef, housewife, and working employee, in a country which I have no idea of how to speak their language. I think I spent my first few weeks wanting to go back to Singapore and just to be done with Berlin.

I was miserable. We were miserable.

The adjustment period gave shocks to our relationship as couple, parents, and family, it tested our patience – but most importantly, it made us even closer to Allah.

Now, after a year, I am glad to say that things have taken a turn to better. The kids are finally adjusted with life in the childcare and more or less having a schedule. Both I and Husband have accepted that things are not going to be as smooth as they were – but there will always be helping hands everywhere.

Forced by the situation, I can finally cook edible (and sometimes good!) Indonesian food at home. I have learned (not mastered it – yet) how to adjust my schedule with the kids’ – long gone the days when I could sleep at 3 am and still could function during working hours.

We take the kids out on weekends to whatever is available around the city – despite not knowing much about the German language. Our eldest speaks German better than us and that’s a good sign since he’s going to primary school in 2 years time where all the lessons will be in German. We are still going to talk to him and his brother in English at home, so hopefully he’s not losing his roots. It will be a challenge to teach them Indonesian though – but for now, as long as they understand the instructions in Indonesian, that’s already enough.

Moving forward – I want to be able to at least speak conversational German. I also want to be able to multitask better without losing focus – that means less time for less important things, including social media. Some aspects of my life need to be fixed and upgraded too, especially when it comes to managing emotions and my quality of prayers.

With the kids, I want to be even more patient with them. I think they can sense when I am angry and while I do think it’s important for them to be able to asses the situation, I don’t want them to associate me with ‘anger’. There must be a way to talk to them and letting them know about the limits and have them obey that. I am still searching for ways to achieve this.

As for my husband, there are times in the past one year that I thought that we were too busy being a parent that we forgot about become a couple. Not sure how we are going to find some quality time with the hectic schedule that we haven’t been able to fully mastered yet – but we are going to take it easy and perhaps will start with watching a movie together haha.

There are still so many things that fill my mind – but I will process them as I go. Here’s for (hopefully) another blessed year in Berlin.

One evening in autumn, 

Why you should move to Berlin

Bismillah,

Mudah-mudahan belum ada yang bosen sama cerita kami dari Berlin ini, hehehe.

Setelah sebelumnya ngobrol kenapa ga usah pindah ke Berlin (super encouraging ya, hahaha), untuk penyeimbang nya ya tentu saja mesti ada pros list nya dong ya. Setelah brainstorming dengan Suami, inilah penyemangat kami (dan mungkin orang lain) buat pindah ke Berlin.

Baca juga: Why you should not move to Berlin

Disclaimer: ini tentunya merujuk ke kondisi keluarga kami yang: Muslim, punya dua anak batita, dan orang tua yang dua-duanya bekerja. Jadi belum tentu juga applicable buat orang lain ya 🙂
Continue reading “Why you should move to Berlin”

Balada Childcare

Bismillah,

Kembali melanjutkan #thenefainberlin series – ini topik yang kemaren kalah pas ada poling, tapi saya keukeuh tetap pengen nulis tentang ini, hihi. Kenapa? Soalnya berasa perjuangan untuk mendapatkan childcare ini bikin lelaaaahhh sangat. Sayang kalau ga ditulis buat kenang-kenangan #eh

Jadi ceritanya, waktu di Singapura, Z dan M diasuh sama mbak Marni. Mbak kami yang sudah mengasuh Z dari dia umur 3.5 bulan dan M sejak dia lahir. Yang sayangnya bukan main sama Z dan M. Yang bikin kami galau waktu memutuskan buat pindah dari Singapura ke Berlin. Z dan M belum ngerti memang kalau mereka bakalan pisah dari mbak Marni, tapi malah jadi kami yang drama karena ya, beliau sudah seperti keluarga sendiri.

Sebenarnya salah satu ketakutan kami buat pindah ke Berlin adalah, siapa yang akan mengasuh anak-anak selagi kami di kantor?

Continue reading “Balada Childcare”

Home Sweet Home… right?

Bismillah.

Kemaren iseng-iseng bikin poll di Facebook #brasafemes karena bingung apa lagi yang mau ditulis di blog ini. Ada beberapa yang respon dan setelah poll ny ditutup dengan skor 4:3, akhirnya memutuskan buat memuaskan publik dengan postingan: Mencari rumah di Berlin

Sebenarnya bingung juga mau mulai darimana karena prosesnya ga gitu ribet dan yang namanya cari rumah sewaan ya pastinya bergantung sama jodoh dengan yang punya rumah lah ya #lha

Tapi cari rumah di Berlin agak sedikit lebih ribet karena.. dokumennya banyak banget ya ampun #lemah. Pengalaman cari rumah tiap orang beda2 pastinya, tapi saya coba deh break down step2 yang saya Suami alamin kemaren.
Continue reading “Home Sweet Home… right?”

Why you should not move to Berlin

Atas permintaan Suhu (aka Adi Prawira – blogger kebanggaan Nggawe Teler University), maka topik kali ini adalah: why you should NOT move to Berlin.
Dan list berikut ini adalah hasil kolaborasi dengan suami tercinta :)))

Disclaimer dulu as usual: list berikut ini berdasarkan pengalaman kami yang lumayan lama bermukim di Singapura – lalu pindah ke Berlin. Pastinya ada yang setuju, ada yang tidak.
Continue reading “Why you should not move to Berlin”

Together

Tiap kali Ramadhan, rasanya hati jadi mellow satu bulan :’) Dan lebih-lebih lagi tahun ini karena ini pertama kalinya kami puasa di Eropa (18 jam!) dan jauh dari segala macam suasana Ramadhan yang dulu kami rasakan di Asia.

Makanan halal yang berlimpah ruah.
Suara adzan dari mesjid di dekat rumah.
Komunitas Muslim yang besar.

Saya dan suami menghabiskan separuh umur kami di Singapura. Boleh dibilang, kami besar dan menjadi dewasa di sana. Anak-anak kami pun lahir disana. Sewajarnya kalau kami merasa kehilangan dengan suasana Ramadhan di Singapura, terutama dengan teman-teman sesama Muslim disana.

Sejujurnya waktu kami memutuskan pindah ke Berlin, saya sempat nangis karena bakalan kangen berat dengan teman-teman di Singapura.

Tapi alhamdulillah, sejak kami sampai di Berlin, kami disambut dengan komunitas Muslim yang juga sama baiknya. Dari merekalah kami merasa kemudahan-kemudahan mengalir di waktu kami membutuhkan. Mulai dari info makanan halal, kegiatan mesjid, bahkan sampai mencari pengasuh anak dan pesan kue Lebaran.

Bumi Allah itu luas, dan sesungguhnya persaudaraan antar sesama Muslim itu bahkan lebih luas lagi.

Benar adanya kalau kebersamaan dan silaturahmi itu bisa memperluas rezeki. Dan lebih penting lagi, membuat betah untuk tinggal jauh dari tanah air.

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman [55] )

H-7 Idul Fitri. Yang kangen mudik.
92c4a39ccb411b660632f537ac085077

Mencari Kerja di Eropa

Bombastis banget judulnya, haha.

Menyambung tulisan saya sebelumnya soal kepindahan keluarga kami di Berlin yang alhamdulillah terlaksana karena saya dan suami mendapatkan kesempatan kerja di sini, saya akan mencoba merangkum perjalanan kami mencari rezeki, dan semoga bisa jadi pointers buat yang sedang berusaha juga. Ga panjang-panjang juga karena proses nya sebenarnya sederhana 😀

Benahi CV

Yes, langkah pertama bukannya soal mencari negaranya atau lowongannya. Tapi benahi CV/resume. Berikut beberapa pointers yang saya dapat dari beberapa recruiters yang sempat saya ajak diskusi:

  • Update riwayat pekerjaan dengan layak. Cantumkan job description yang sesuai untuk tiap posisi.
  • Update pencapaian untuk tiap posisi dengan angka. Ini penting – karena calon employer tentunya ingin melihat value yang diberikan calon employee ke perusahaan-perusahaan sebelumnya – dan medium angka adalah indikator terbaik. Contoh: Berhasil meningkatkan revenuequarter-to-quarter sebanyak XX%.
  • Batasi panjang CV/resume. Recruiter tidak akan ambil pusing dengan CV/resume yang panjangnya melebihi dua halaman.
  • Make it attractive but not distracting! Saya pake enhance dan puas sekali dengan hasilnya.
  • Have it reviewed by someone else. Minta feedback dari orang-orang dekat – lebih baik lagi kalau ada kenalan HR/Recruiter 🙂

Selain membuat versi .pdf dari CV/resume, ada baiknya kita punya digital presence juga untuk CV/resume. Untuk yang punya website sendiri, siapkan satu section khusus untuk CV/Resume. Atau bagi yang tidak punya, LinkedIn is your best bet!

Tentukan negara tujuan

OK, now that your CV is done – time to move on to the next step.
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan ketika akan mulai mencari kesempatan di luar.

Jenis pekerjaan

Pertama, field pekerjaan. Untuk tiap field, ada beberapa negara yang memang menonjol disana. Untuk IT di Eropa, Belanda dan Jerman. Untuk finance, mata sudah tentu tertuju ke UK. Silakan browsing di negara mana yang lebih banyak tersedia lapangan pekerjaan sesuai dengan field pekerjaan sebelumnya.

Kondisi negara yang diincar

Waktu kami melihat-lihat prospek mendapatkan pekerjaan di Eropa, kami sadar betul bahwa kami tidak bisa asal pilih. Melihat situasi keluarga kami, kami ingin ke negara yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • Memungkinkan kami berdua untuk sama-sama bekerja.
  • Great work-life balance.
  • Punya sistem pendukung untuk keluarga dengan working parents .
  • Punya komunitas Muslim dan akses ke bahan makanan halal.
  • Urusan visa kerja yang relatif mudah dan masih menerima pendatang.

Setiap orang punya kondisi berbeda. Silakan di survey di negara mana yang lebih pas untuk mengais Euro 🙂 Sebagai referensi, selain memantau berita kondisi Eropa, kami juga banyak mencari tahu dari Quora.

Berburu lowongan pekerjaan

Setelah menetapkan negara mana yang kira-kira berprospek, waktunya berburu!

LinkedIn

Sebagai profesional jaman now #eh, pastinya punya LinkedIn profile. LinkedIn juga punya section dimana companies bisa memasang lowongan pekerjaan.
Screen Shot 2018-04-14 at 10.33.07 AM
Untuk yang berlogo “Easy Apply” – bisa di apply via LinkedIn langsung instead of ke website perusahaannya.

Glassdoor

Glassdoor most of the time is used as a review/interview help website. Tapi sebenarnya mereka juga punya section untuk lowongan pekerjaan.
Screen Shot 2018-04-14 at 10.35.30 AM

Ada beberapa perusahaan yang tidak memasang lowongan pekerjaan mereka di LinkedIn – but they put them on Glassdoor instead. Saya pun menemukan lowongan pekerjaan di company saya yang sekarang justru di Glassdoor. Intinya, check both and perhaps there are some openings that you missed.
Di Glassdoor, praktisnya juga bisa langsung cek rating tiap company dan review dari interviewees and employees. Menurut saya, review dan rating di Glassdoor lumayan akurat.

Local job websites

Waktu saya mencari lowongan pekerjaan, saya juga register di local job websites. Untuk Jerman, saya register di Xing. Tidak terlalu menolong kalau untuk saya – karena jobs yang di list di Xing cenderung menggunakan bahasa Jerman dan tentunya mencari orang yang sudah fasih bahasa Jerman. Tapi kadang-kadang saya menemukan lowongan yang ga ada di LinkedIn atau Glassdoor – mostly start-ups kecil.

Network

Nah ini. Kalau ada ex-colleagues atau kenalan yang sudah bekerja di negara tujuan, akan jauh lebih cepat prosesnya. Sebagai orang dalam perusahaan, mereka mungkin lebih tahu lowongan pekerjaan yang sudah available tapi belum dipublish di website manapun. Dan mereka pun akan dengan senang hati merefer kita karena kemungkinan akan ada bonus tambahan untuk mereka.

Tetapi kita juga perlu hati-hati menggunakan jalur network ini. Jangan sampai terlalu memaksa apalagi terkesan ‘menodong’.

Internal transfer

Global companies mungkin punya banyak kantor tersebar di kontinen yang berbeda. Manfaatkanlah internal transfer jika ada. Selain prosesnya yang cenderung lebih mudah dan simple, biasanya company akan menyiapkan dana relokasi dan akomodasi sementara yang lumayan jumlahnya. Untuk proses adaptasi pun tidak terlalu sulit karena kita sudah tahu bagaimana proses di perusahaan berjalan.

Mempersiapkan diri untuk interview

Sudah ada panggilan interview? Selamat! Waktunya bersiap-siap.

Research, research, research

I can’t stress this enough. Do your homework. Find out about the company and the culture, find out what their latest product is, find out what are their biggest challenges. Find out about the interviewer if you can. Intinya, cari tahu tentang company itu sebanyak-banyaknya.

Phone call

Biasanya recruiter akan memulai dengan simple phone call – pertanyaan yang mereka lontarkan biasanya lumayan basic. Past experiences, basic salary, expected salary, dsb. Berikanlah first impression yang baik. Jika call dilakukan saat office hour (karena perbedaan timezone, mungkin), carilah tempat yang kondusif untuk bicara.

Roundtable

Konsep roundtable sendiri biasanya lebih untuk technical interviews. Untuk kasus saya, karena saya adalah overseas candidate, roundtable yang saya jalani dipisah menjadi satu kali sehari dalam kurun waktu 4 hari – jadi setiap hari akan ada satu interview dengan 4 interviewers yang berbeda-beda. Siapkan stamina dan waktu. Menurut saya ini adalah tahap yang lumayan melelahkan.

On-site interviews

Untuk tahap terakhir interview, ada beberapa company yang mengundang candidates untuk datang ke lokasi dan mengadakan interview terakhir disana. Tujuannya lebih untuk bertemu langsung dengan calon employee and getting to know the candidate better. Di company tempat saya sekarang bekerja, on-site interview juga dibarengi dengan makan siang bersama. Tahap terakhir ini biasanya lebih rileks, tapi orang-orang yang ditemui juga biasanya lebih ‘atas’ – selevel director atau manager.

Jika diundang untuk on-site interviews, saran saya yang pertama adalah: VISA. Seperti yang sudah sama-sama kita tahu, untuk paspor Indonesia biasanya butuh aplikasi visa yang lumayan panjang ke negara Eropa. Perhatikan baik-baik ketentuan aplikasi visa dan berapa waktu yang dibutuhkan hingga visa keluar. Terkadang kedutaan besar juga akan meminta surat keterangan dari pengundang – komunikasikan dengan baik soal ketentuan ini dengan recruiter/HR.

Offer negotiation

Sudah melewati tahap interviews yang panjang dan sudah ada offer di tangan? SELAMAT! Saat nya negosiasi bila perlu 🙂

Expected salary

Saya tidak mematok increment yang tinggi – tapi menurut saya sangat penting untuk know your worth. Cari tahu average gaji untuk posisi yang ditawarkan dan tentunya dengan years of experience yang kita punya. Jangan mau di low ball. That kind of company will never appreciate you in the long run.

Benefits dan packages

Yang standar-standar seperti annual leaves, bonus, saham (bila ada). Tentunya ini berbeda-beda untuk tiap perusahaan. Tapi sebagai calon expat #eh, menurut saya ada hal-hal spesifik yang perlu ditanyakan:

  • Relocation allowance. Apa yang dicover? Tiket pesawat? Pengiriman barang? Pengurusan visa?
  • Temporary accommodation. Tentunya kita tidak bisa langsung datang ke negara yang mungkin kita belum kenal dan punya akomodasi yang permanen.
  • Bantuan pengurusan birokrasi. Ini sangat penting apalagi kalau pegawai pemerintahan negara tersebut don’t speak a lot of English.

***

Epilog

Overall, saya merasa perjuangan mencari kerja dimana-mana sama saja. Berusaha sebaik-baiknya untuk mencari pekerjaan dan rezeki yang halal, sisanya tinggal berserah pada Allah.

Point penting yang bisa saya tegaskan disini – sabar, sabar, dan sabar. Sebagai overseas candidate, tidak mudah untuk mendapatkan interview, apalagi offer. Adaptasi dengan kultur baru juga perlu menjadi pertimbangan – apalagi kita sebagai orang Asia beradaptasi dengan kultur Eropa.

All the best :),
92c4a39ccb411b660632f537ac085077

Hallo Berlin!

Halo halo~

Saya pengen mulai semangat nulis lagi, dan karena ga ada mood buat nulis di diary dan sekalian pengen mulai menghidupkan blog lagi, jadilah main ke blog ini 😀

Honestly, tanpa bermaksud sombong, setelah bertahun2 kuliah, kerja, dan berinteraksi di luar negeri, saya jauh lebih mudah buat nulis dalam bahasa Inggris. Tanpa disadari, kemampuan bahasa Indonesia saya jadi parah. Levelnya level parah banget sampe saya susah payah mencari padanan beberapa kata bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia. Anehnya, kalo ngomong bahasa slang (alias: lo gue), masih lumayan. Hadeuh. Jadi, nulis di blog ini pun saya usahakan dalam bahasa Indonesia deh, mudah-mudahan saya bisa balik jadi polygot 😀 (amiin yang kenceng)

Anyway, topik yang bakal saya bahas beberapa waktu ke depan, kayaknya ga bakalan jauh2 dari topik utama hidup saya sekarang ini: how to survive in Berlin.
Continue reading “Hallo Berlin!”

So goodbye, and smile.

So today is New Year’s Eve

And I am waiting for a train at Alexanderplatz. Going to our Boxhagener house to collect a few items left while letting Husband taking care of Z and M at our Moabit house.

Feeling mellow right now cause .. this will be the last time I am coming to Boxhagener house 🙁

I only stayed there for a month but that house saw a lot of memories already. M took his first long steps there. It saw us struggling with finding house and nanny and all..

I have moved house three times this year and each move was so sad. Why do I have to feel so attached to a house? And when can we settle down?

2017 has been a year of changes for us. From moving to Hougang to Kovan. From Kovan to Berlin. And now from our Boxhagener house to our Moabit house.

When we moved from Hougang, we only looked for a house that is temporary or 6 months at least cause Husband already accepted an offer from Berlin and he wanted us to join him as soon as we can – it made no sense if we rent another house for a year.

But I haven’t found a job yet so the best we could do is looking for a short-term house with a possible extension.

I remember feeling so uncertain. I cursed myself for saying yes to Husband.

And then we found Kovan house.

The house was smaller than Hougang. But it’s only 5 mins away from Z’s school. And to Kovan MRT, it’s only two stops away. We also had playground right below our block.

We moved there and I secretly hoped we could call it home.

And then came that offer from Berlin in September.

We were only at Kovan for less than two months and we were already going to say goodbye to even more precious things we had in Singapore.

Our helper.
Z’s school.
Friends.
Our Muslim community.

My heart still breaks remembering all of those. I really really couldn’t bear to think about it.

But I need to follow Husband. Our family is not a family without him.

As I am typing this, I am crying a bucket.

I left Singapore with a heavy heart.

It’s been a month but it still feels like half of my heart is still with Singapore. I don’t know when can I call someplace else as home.

Maybe because I know that I probably will never be able to come back permanently to Singapore again.

Our next stop after Berlin will be another country or – going back home for good.

I .. don’t think I am ready for that yet.

I keep thinking what makes me miss Singapore so much. Sure I was there for 12 years but if I am being honest, I think I spent half of it complaining about Singapore and its system.

When I left for Japan in 2010, I don’t think I was ever this sad.

Maybe because of so many memories with my kids there?

They were born in Singapore. They thought Singapore is their home. Heck, even Z called himself “Singaporean”!

M didn’t know about all of these yet but if he does, I’d think he would also call himself Singaporean.

Agh, this post is getting more difficult to write.

I guess I need to find a way to deal with my own feelings. I can’t always cry and sad every time I remember Singapore anyway.

In the meantime..

Happy new year 2018!